Showing posts with label Cerpen cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen cerpen. Show all posts

Wednesday, January 7, 2009

Yang Hadir di Malam Takbir

cerpen Radhar Panca Dahana
HAL pertama yang tak hadir di bulan yang bagi banyak orang istimewa ini, terjadi di tanggal awal September. Bulan sembilan, baik dalam shio, rasi, posisi planet hingga warna dasar favoritku, adalah angka sempurna. Bulan yang tepat, antara lain untuk menghitung jumlah tabunganku selama sembilan bulan terakhir. Jumlah yang begitu hebat bersembunyi

Itulah salah satu kelihaianku: mendapatkan tempat persembunyian yang tak akan terduga. Di lubang itu, di balik kayu lantai yang rapuh di ruang kerjaku, kusisihkan pendapatan-pendapatan tambahan yang tak terdeteksi istriku. Kumpulan lebihan yang senantiasa berubah menjadi surprise: wisata lebaran, televisi baru, giwang emas, dan sebagainya.

Tapi kali ini ada surprise lain. Menjelang magrib, awal September itu, saat seisi rumah cermat menunggu adzan pertama ramadhan, ada sesosok bayangan mengendap dan berjongkok di lubang itu, di lantai rapuh itu. Tentu bukan bayanganku sendiri. Bayangan Manfuq, iparku, pemuda 25 tahunan, tiga tahun lebih hidup bersamaku. Betapapun bayangan itu bergerak sesebat setan, aku telah memastikan jatidirinya.
Sebagaimana kupastikan kemudian, lebih separuh angka tabungan itu lenyap. Dan bukan hanya angka, atau surprise tahunan yang lenyap. Tapi juga mimpi dan kebahagiaan kecil, senyum yang berputiksari istriku, plus asisten pribadi yang selama ini membelaku secara fisik: Manfuq. Pemuda itu kupulangkan segera ke kampungnya, sebelum ia sadar apa kesalahannya.

Sidrat, istriku, protes keras. Bukan melulu perkara ia harus menggantikan sepertiga pekerjaan rumah yang sebelumnya dilakukan Manfuq, namun lebih karena ia menganggap pengusiran adiknya itu sebagai penghinaan. Satu dari 30 lebih alasan yang ada di balik 134 kali protes yang selama ini ia lontarkan padaku. Tentu termasuk 29 kali tekadnya untuk meninggalkanku dan Bouraque, anakku; 16 kali tuntutan kompensasi cerai, 11 kali merusak barang (pintu, lemari, perabotan dapur, hiasan, kosmetik, entah apalagi). Dan tentu –dan terutama—27 kali ekspresi dendam, benci atau sekadar serapah pada Isamur, perawan yang lebih tujuh tahun kupacari dulu, perempuan yang ternyata melahirkan Bouraque.

Tapi semua absensi di awal bulan berkah ini, tak lebih berarti ketimbang sebuah peristiwa kecil. Terjadi kemudian, memasuki minggu kedua bulan sembilan.

JUM’AT, 08.30, langit kabur karena awan menggelap. Telepon berdering dan memberiku percakapan tak lebih dari satu menit. Hanya tiga kalimat kudengar dari moda komunikasi tradisional itu. Simpel. Tapi tidak akibatnya, tiga jam kemudian. Sebuah minivan baru hijau lumut, parkir di depan rumah. Seorang wanita semampai, kulit langsat, rias tebal dan rok pendek, masuk ke kamar Bouraque, tanpa kata-kata.

Ia membereskan semua barang Bouraque. Membangunkan anak yang masih tidur di hari sekolahnya yang telah libur. Setengah menyeretnya, wanita semampai itu membawa anakku keluar, dan hilang bersama minivan hijau lumut itu. Tujuh setengah menit hanya. Menit ke sembilan belas, Sidrat kembali dari belanja. Membereskannya dan menengok kamar tidur. “Kemana Burkie?” ia menyebut panggilan anak tirinya.
Tentu saja aku tak perlu menjawab. Melihat lemari pakaian, rak buku pelajaran, hingga kotak sepatu yang kosong, Sidrat segera merasa cukup memiliki alasan untuk menawanku dalam pengadilan di ruang mata dan pikirannya. Tak kurang dari sembilan pertanyaan –plus dakwaan, tentu—ia lontarkan untuk mendapatkan bibirku merapat dan mengeras. “Dimana, Burkie?!” Ia berteriak. “Pasti dia kan mengambilnya?!” Ia memvonis. Bibirku kering, kian mengeras.
Hingga kemudian ia menggebrak pintu kamar tidur. Bernyanyi dengan senggukan yang mengalun, kemudian melihat aku yang tetap kuncup kehabisan klorofil. Pada saat seperti itu, Sidrat mafhum, aku adalah tumbuhan yang takkan berkembang biarpun tak habis-habisnya disiram tuduhan dan makian.
Aksi berikutnya, mengesankan: ia memanggil Fuqahi, pembantu yang setia tujuh tahun terakhir merawat Burkie. Apa yang dialunkan Sidrat aku tak paham detailnya. Telingaku absen, karena beberapa syaraf sensorisnya mungkin terbunuh atau kebal. Tampaknya ia tengah melakukan kebiasaan terbaiknya: mencetak benak di kepala Fuqahi, pembantu setia itu bertanggungjawab pada hilangnya Burkie. Akhirnya Fuqahi –yang hanya memiliki dua kosa kata “ya” dan “tidak”—malah mendapatkan sebuah amplop penuh uang. Gaji terakhir, karena Sidrat memecatnya secara definitif.
Aku mengerti arah bola bilyar itu. Aku dibuatnya tersiksa tidak hanya karena absennya Manfuq, Burki dan Fuqahi di bulan baik ini, tapi lebih utama: aku menjadi tak berdaya, bahkan untuk mengangkat pantat yang mendorong tubuhku berdiri. Dan tak ada siapa pun di sini, rumah ini, yang mampu membantu. Kecuali perempuan itu, yang empat tahun ini menjadi istriku.
Dunia menyempit. Tapi bukan kehilangan dunia itu sebenarnya yang membuatku juga merasa lenyap. Tapi hanya sebuah kotak kecil yang berkata-kata. Ceritanya bermula di akhir bulan sembilan.

UNTUK pertama kali, aku berusaha sendiri mengatasi invaliditas sebagian dari kemampuan fisikku. Invaliditas yang membuatku hampir seperti daun-daun suplir, hidup dengan perawatan penuh disiplin. Sudah tiga tahun lebih, kematian beberapa organ ini, telah membuat beberapa perawat bosan meladeniku. Kecuali sebuah mainan kecil: telepon genggamku.
Dalam kesetiaan yang hiper pasif, alat itu memberiku dunia kecil, miniatur dunia besar yang puluhan tahun lalu menghidupiku. Aku membaca, mendengar, melihat, menikmati, bertukar pesan, menulis, mencari penghasilan, bahkan orgasme dengan kotak komunikasi tak lebih dari 80 sentimeter persegi itu. Di situlah memori seluruh kemanusiaanku kini berada. Mungkin keberadaanku sendiri.

Tapi kini aku tak dapat lagi nyenyak dengan dunia kecil itu. Sedikit-sedikit aku mesti menjangkau kembali dunia besarku. Mulai dengan menggeser pantat, mengangkat pinggul, dan menggerakkan tungkai. Hingga akhirnya aku bisa mencapai kloset untuk melepaskan hajat. Aku sudah menghapus gambar bibir dari wajahku sendiri. Juga bibir di hatiku, bibir di niatku untuk mengharapkan siapa pun memberi pertolongan.
Barangkali aku terkesan dengan kemajuanku. Tak sampai dua minggu, aku mampu memasak sendiri sarapanku. Memesan makan siang dan malamku ke rumah makan padang, cina atau sunda langgananku dulu. Memanggil Parnian, tukang ojek, membantuku mengambilkan uang di bank. Aku hidup.
Sidrat pun hidup. Tak terlampau kuperhatikan apa yang membuatnya tampak sibuk setiap hari. Sesekali kulihat makanan di meja. Entah dari mana, siapa memasak. Mungkin dia. Tapi entah untuk siapa. Tak pernah kutanyakan. Tak pernah kusentuh. Kuurus sendiri dunia besarku yang kecil. Kunikmati sendiri dunia kecilku yang besar.

ADZAN magrib sudah 29 kali berkumandang di bulan baik ini. Saat kudengar shalat witir dialunkan di surau, 15 meter dari rumahku, aku merasakan penyesalan begitu berat, mendadak sekali. Bukan...bukan sama sekali lantaran aku tak mampu melangsungkan ritus-ritus di bulan baik ini seperti banyak orang. Tapi melulu karena aku telah menghancurkan kemungkinanku untuk menjadi manusia seperti yang diinginkanNya. Sekurangnya, aku gagal memaksimalkan begitu banyak kemampuan kemanusiaan yang sejak mula Ia fitrahkan padaku.
Aku gagal menjadi manusia. Dan aku tahu risikonya. Kegagalan lain, satu persatu mendatangiku, seperti musafir yang tak jemu. Dengan ragu, aku menunggu, siapa lagi bakal bertamu.

Hari memekat. Aku hampir lupa membayar fidiyah.

HARI ke-30, bisa kurasakan kesibukan luar biasa. Dimana-mana. Di koran-koran, televisi, para tetangga, jalan depan rumah, hingga puluhan pesan elektronik di telepon genggam, dan jutaan manusia yang memenuhi pantura. Begitupun rumahku. Entah darimana, berbagai makanan dan kue-kue sudah terhidang di atas meja makan, meja tamu, dan meja tengah.

Aku lihat Sidrat seperti tukang parkir amatir, lari kanan-kiri, masuk dan keluar rumah. Membawa barang, menyiapkan barang, hingga rumah begitu meriah. Terlalu meriah. Aku tak paham, dan tak berusaha mengerti, untuk apa itu semua, untuk siapa. Aku punya kerja sendiri.

Sejak pagi menelepon Parnian. Memintanya memesan 40 boks makanan, ayam bakar komplit, plus buah dan kolak. Dengan sedikit persen, kuminta mengantarnya sebagai fidiyah ke sebuah panti asuhan yang cukup kukenal baik.

Tak tahu kenapa, Parnian membawa dulu 40 boks itu ke rumah dengan maksud memperlihatkan kualitas isi di dalamnya. Aku bilang tak perlu, aku percaya padamu, Nian. Namun terlanjur sudah. Sidrat muncul dari balik dapur, melihat tumpukan boks, mengamati Parnian yang mengangkutnya ke dalam angkot sewaan, mencermati tujuan boks-boks itu. Lalu ia memindahkan pandangannya ke arahku dengan kilatan pertanyaan yang luar biasa tajam: Parniankah yang kini berhak memasuki hidupmu?

Aku paham kemana tusukan pertanyaan itu. Namun coba tak kupedulikan. Aku menoleh ke arah lain, berjalan perlahan, memasuki kamar tidur, menutup pintu, dan berusaha melelapkan mata. Beberapa menit hening. Kesibukan luar biasa yang tadi terjadi sirna. Berganti dengung yang mengambang karena imajinasiku.

Lalu dengung berubah menjadi suara yang semula lirih dan terasa jauh, “Apa maksudnya? Apa maksudnya?” Suara Sidrat bergumam bersama benturan beling di tempat cucian. Aku pun tak mengerti: apa maksudnya? Lalu kembali hening. Sedikit lama, dan aku sedikit terlelap. Sampai suara benda jatuh mengagetkanku. Aku hendak bangun, tapi suara jatuh kedua terdengar, sedikit lebih keras. Dan akhirnya rasa kejutku sirna, karena suara jatuh itu kemudian seperti mitraliur terdengar.

Seperti musik cadas. Bunyi barang berjatuhan dan serapah, serta satu kalimat pendek yang kuat menerpa pendengaranku, “Aku tak kuat lagi! Aku tak kuat lagi?” Kurasa suara dahsyat berikutnya berasal dari taplak meja makan yang ditarik kencang, sehingga semua yang ada di atasnya berdebam dengan bebas di marmer putih lantai. Dan ah...tentu itu meja tengah yang terbalik. Suaranya kuat karena ia dibuat dengan jati kalimantan. Musik cadas itu, memintaku mengeratkan pejam mataku.

Kucoba periksa diriku. Pikiran, hati, mimpi atau kesadaranku terdalam, yang sembunyi. Hampa. Berkaca pada udara kamar, kulihat bola mataku. Hampa. Hingga sebuah suara, keras, sangat keras kurasa, terdengar di pintu kamar tidurku yang tampaknya tertimpa benda padat. Jantungku berdegup lebih kencang. Aku tahu, hipertensi kumat dengan dahsyat. Tak sadar aku sudah terduduk di tempat tidur.
Tapi hening setelah itu. Hening, cukup lama. Kudengar degup jantungku melambat dan akhirnya kembali normal. Tentu tidak dengan tensi darahku. Perlahan kudekati pintu. Kubuka pelan, dan kusaksikan tripleks penutup daun pintu itu hancur. Tepat di depannya, sebuah vcd player teronggok, remuk. Aku menatap sekeliling. Pemandangan itu ganjil dan aneh.
Bukan, ini bukan kiamat. Belum setidaknya. Yang jelas aku tidak mengenali lagi ruang yang beberapa saat sebelumnya kusebut “rumahku”. Berbagai benda menempati posisinya secara acak. Ada yang patah, berkeping, retak, tumpang tindih, berganti warna, basah, koyak, menggelinding tak henti: aku merasa dalam sinema-sinema murahan hollywood.
Sepi sekali. Aku mengerti: Sidrat sudah pergi. Definitif kali ini. Adzan ashar.

KEMBALI ke dalam kamar tidur. Aku berusaha mengunyah sepi seperti sashimi yang selalu menenteramkan lidahku. Tak berhasil. Aku menggapai communicatorku, main game. Kusudahi cepat. Kubuka lagi, melihat berbagai pesan elektronik. Kututup cepat. Kubuka lagi, memindai nama dan nomor-nomor kontak. Tutup. Buka: membaca draft-draft puisi. Tutup. Buka: tulisan dan cerpen-cerpen. Tutup. Buka: browsing, situs porno. Tutup!
Tak kurasakan, apa tubuhku terbaring, terlentang, telungkup, terduduk, atau: aku merasa hari malam tiba-tiba. Takbir bertalu, menyambut magrib. Bulan baik ini akan segera tuntas. Sebagian menghabiskan puasa dengan membakar mercon. Takbir itu seperti gamelan yang menggema dari sudut terjauh bumi. Aku belum membayar zakat. Aku belum mandi. Aku bangkit tanpa tersadari.
Tapi apa yang harus kuperbuat di kamar mandi. Aku tak tahu. Aku justru menyalakan telepon genggam, menghubungi entah siapa, hanya untuk mengucapkan, “Apa kabar?”, lalu kututup lagi. Tapi di situ masalahnya. Aku tak sadar bila tubuhku bergetar, gemetar tepatnya. Entah kenapa. Limbung seperti habis naik komidi putar. Aku coba meraih tubir bak mandi, tapi tergapai tepian kloset.. Tubuhku selamat dari jatuh, namun telepon genggam itu luput, dan meluncur tenggelam di kedalaman kloset.
Aku memandanginya beberapa lama. Menggapainya perlahan. Memandangi alat yang seakan hendak berteriak itu. Tapi ia bisu. Dan kuyup. Dunia kecilku. Aku tidak limbung lagi. Tapi naik naik komidi putar lagi, seperti kecil dulu. Sampai kusadar aku sudah terduduk di satu pojok kamar yang basah itu.
Apakah aku pun basah? Celanaku, tanganku, mataku, hatiku, dunia besar-kecilku? Aku tak tahu. Kamar itu begitu gelap. Segala absen. Kecuali takbir yang jauh. Jauh sekali. Tapi melekat di telinga hatiku. Suara beduk memberi latar yang empuk. Aku belum bayar zakat fitrah. Tapi gelap sekali. Aku tak tahu dimana tubuhku. Segalanya absen.
Cuma takbir. Takbir membawaku pergi. Menjumpai perempuan yang beberapa kali kutemui dan selalu memperkenalkan diri, “Rabi’ah, namaku.” Biasanya aku langsung menangis. Begitupun kali ini. Tapi ada yang tak hadir: airmata. Rabi’ah, aku malu padamu. Aku capek. Aku gagal menjadi aku. Aku mau tidur. Aku tidur. Tidak...belum. Ada sentuhan, seperti sebuah jari, di punggungku dingin. Mengejutkan seperti listrik, membuat mataku terbelalak tiba-tiba. Ah...apa di sana? Sesuatu yang lain.
Tak ada apa. Hanya pandang menjadi terang. Segala terang, tak ada apa. Hanya cahaya. Hanya terpana. Aku dimana? Ada yang hadir. Dan memesona. Lebarankukah tiba?
Pamulang, 30 Ramadhan 1429 H

Luna, Toilet dan Dagu Pendek

cerpen Radhar Panca Dahana
SUDAH hampir seminggu ini penampilan perawan hampir tiga puluhan itu berubah. Dan hampir selama seminggu itu, ia mendapat pengalaman yang berbeda dari biasanya. Entah mengejutkan, mengesankan atau menggelikan, ia masih belum bisa merumuskan. Yang jelas, kini ia harus berhadapan dengan tatapan mata penuh variasi dari semua rekan-rekannya, di tempat kerja, di kafe tempat biasa ‘nongkrong’, di fitness center, atau di lingkungan perumahan tempatnya selama ini mengontrak rumah.

Pasalnya, bisa dibilang sederhana bisa pula tidak. Sejak seminggu lalu, Luna, perawan itu, telah melakukan operasi kecil di sebuah klinik yang cukup mahal, untuk memperbaiki bentuk dagunya. Dagu yang selama bertahun-tahun sebelumnya menjadi pusat keresahannya sebagai wanita. Sebagai keturunan asli manusia Pacitan, Jawa Timur, tempat dimana nenek moyangnya berasal, Luna mewarisi tubuh yang kecil, ramping, namun kuat dan sintal. Wajahnya oval dengan mata kecil, alis cukup tebal, hidung tidak pendek tapi sedikit melebar cupingnya, bibir penuh dan hangat serta (ini masalahnya) dagu yang sempit, pendek.

Untuk seorang karyawati perusahaan swasta yang cukup maju, berkantor di pusat ibukota, dan pergaulan boleh dibilang high-middle class, penampilan Luna memang terasa kurang memadai. Orang bilang ia cantik, tepatnya cukup cantik, dengan aroma tradisionalnya yang khas. Kening sempit, rambut ikal hitam, alis tebal dan mata bening adalah modal utamanya. Bibirnya yang penuh pun beberapa kali mendapat reaksi yang merangsang dari beberapa teman lawan jenisnya.

Namun satu hal itu: dagu. Memang tidak ada yang mempersoalkan. Namun dari sekian banyak komentar teman kencan lelakinya, tak satu pun yang menyinggung bagian yang satu itu. Luna mengartikannya sebagai ketidakpuasan atau ketidaksempurnaan: dagunya terlalu pendek. Ia sering merasakan beberapa tangan lelaki mengusap atau bibirnya mengecup bagian mata, kening, hidung atau bibir. Tapi dagu? Memandangnya pun mereka terasa sungkan. Sementara ia merasakan bagian itu adalah salah satu sudut terpenting di tubuhnya. Kerinduan yang menguat akan perhatian lelaki pada dagunya, membuat bagian itu makin terasa khusus, bahkan baginya adalah bagian yang paling merangsang dari keseluruhan wajahnya.

Luna tidak tahu harus menyesali apa dan siapa. Kenyataan itu sering ia baca di depan cermin toilet rumah kontrakannya –atau kadang di kantornya-- tempat ia biasa berhias atau sekadar menilai penampilan terakhirnya. Di hadapan cermin toilet itu, kerap ia duduk termangu, melulu merenungi dagu. Berbagai peralatan kosmetik yang bertebar di depan cermin tak dapat bicara apa. Semua bisa bermakna untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan semua bagian wajahnya. Kecuali dagu.

Seringkali ia mengusap-usap dan sesekali coba menarik dagunya, seraya membayangkan jika daging kecil yang menjuntai itu sedikit lebih panjang. Ia pasti akan mengubah segalanya. Bukan saja ia tampak lebih manis, wajah ovalnya sedikit memanjang, tapi juga bisa dipastikan aroma tradisional di wajahnya akan sedikit lebih “modern”. Tepatnya lebih mendekati tekstur wajah artis-artis (Hollywood, terutama). Luna dapat memeriksanya pada beberapa teman, yang ia rasa, menjadi pusat perhatian karena kecantikan wajahnya dilengkapi oleh dagu yang lebih menjuntai.
Satu hal lebih penting dari pengamatan itu, tak peduli dagu rekan-rekannya itu asli atau buatan (karena operasi plastik), penampilan mereka tampak lebih kuat dan lebih percaya diri. Pikiran itulah yang kemudian ikut menggantung seperti dagunya, di depan cermin toilet. “Haruskah kuubah bentuk daguku?” Dengan operasi plastik? Luna kembali mengusap-usap dagunya. Menarik-nariknya, kini sedikit lebih kencang. Tak ada perubahan, tentu saja.

Ia mengambil shadow dan mencoba membuat garis tebal dengan warna tipis-gelap yang sesuai dengan wajahnya di tarikan ujung bibir ke bawah ke dua sisi dagunya. Ia kaburkan dengan beberapa usapan kuas. Ia berharap dengan itu lebar dagunya mengecil sehingga terkesan ia sedikit lebih lancip. Tidak berhasil. Garis suram di ujung bibir itu malah membuat wajahnya tampak murung.

Luna mengeluh sedikit. Mengambil spon dan menghapus kebasan warna tipis itu. Dan dagu pendek itu kembali muncul. Ia mengusap dan menarik-tariknya lagi. Tak ada perubahan. Ia memandang cukup lama wajahnya, dan kembali berkali-kali ke arah dagunya. Dihempaskan nafasnya agak keras bersama keluhan tak bersuara. Dan lihat! Wajah di cermin itu, tampak begitu berduka. Sedikit kosong pandangnya. Beberapa detik terasa hampa. Luna bangkit, ia harus segera pergi tidur. Kerja seharian membuatnya lelah.

Tak ia sadari, begitu tubuhnya berlalu dan lenyap di balik pintu toilet, cermin itu bergeming dari keadaan semula: tubuh, wajah, dan dagu pendek itu masih tetap duduk dalam kebeningan cermin itu. Wajahnya tetap berduka. Kini ia tiba-tiba sedikit menunduk dan menggeleng-geleng. Dan ketika ia menengadahkan kembali wajahnya, astaga, ia menangis! Satu dua butir airmatanya jatuh, sebagian menimpa kosmetika yang bertebar di hadapan cermin.

Dan Luna tidak akan pernah tahu, mengapa dirinya menangis dalam cermin. Ia sudah tertidur pulas.


TELAH beberapa kali lagi Luna berkencan dengan teman-teman lelakinya. Tak ada yang ia harap kecuali: perhatian. Perhatian pada dagunya yang baru. Dari lima orang yang pernah membawanya ke bioskop, karaoke, bahkan liburan ke satu hotel di Puncak, hanya Droge (entah dari mana nama itu), temannya di komunitas kafe, yang sempat menyentuh dagunya dengan usapan.

Luna sungguh tergetar. Betapapun sentuhan itu bukanlah sebuah tindakan romantis, untuk mengagumi, mencium atau merangsangnya. Tapi sekadar untuk bertanya, “Berapa biaya untuk mengubah dagumu ini?” Tentu saja Luna tidak menjawab. Ia coba melempar dan mengalihkan pertanyaan itu dengan tawa yang ia usahakan semanis dan semerangsang mungkin. Droge bergeming. Ia tetap mengusapnya dua-tiga kali, tetap dengan pertanyaan yang sama.

Akhirnya Luna menyerah. Ia telengkan wajahnya, membuatnya sedikit miring sehingga terlepas dari jari-jari Droge, dan memajukan sedikit hingga mendekati wajah lelaki pertengahan tiga puluhan dengan anak dua itu. Sebelum Droge menyadarinya, Luna sudah menyambar bibir pria pegawai bagian sales sebuah bank nasional itu. Droge tak mampu, sebenarnya tak mau, mengelak lagi. Mereka berpagutan. Bukan cuma bibir, dagu mereka pun bergesekan. Ada sensasi tersendiri yang Luna rasakan.

Tapi sungguh, setelah beberapa hari momen romantisnya dengan Droge itu, Luna belum mengerti jelas, sensasi apa sebenarnya yang ia rasakan. Pergesekan dagu itu memang sedikit membuatnya tambah bergairah. Namun ia tidak merasakannya sebagai sensasi biologis yang kuat, sebagaimana jika bagian tubuh lainnya ter atau disentuh. Mungkin karena tak banyak urat-urat syaraf atau bagian-bagian sensitif lainnya terlibat. Kalau mau jujur, sesungguhnya ia merasa agak kebal.

Dari situ, ia kembali merasa ragu. Bukan melulu lantaran harapan dagunya menjadi sumber rangsangan utama tidak tercapai, tapi juga berminggu setelah usapan Droge itu, tidak ada lelaki lain lagi yang memberi perhatian khusus pada dagu barunya. Mereka tetap mengambil fokus pada bagian lain wajahnya, juga tetap pada bagian dada dan pinggulnya yang pepat dan ranum atau pinggangnya yang ciut.
Sebagian bahkan, ia merasa, coba dengan sengaja tidak atau mengalihkan perhatiannya pada dagu itu. Seperti ada perasaan menyesal, menyayangkan, atau malah....mencibir?

Hal terakhir itu lebih ia rasakan justru dari para teman-teman ceweknya. Hampir semua melontarkan “kekaguman” pada dagu barunya. Tapi ia mengerti benar mulut perempuan, tak lebih dari iklan atau promo produk: tempat paling indah menyembunyikan keburukan yang sebenarnya ada. Karenanya ia tidak perduli. Ia dengan segera menanggapinya sebagai kecemburuan, persaingan, atau mungkin ketidakmampuan. Di hadapan “penggemar-penggemar” ceweknya, ia berhasil tampil lebih percaya diri.
Ia tak peduli apakah alasannya tepat atau tidak. Dalam dunia ini, bukan pujian sesama jenis yang ia butuhkan, tapi lawannya. Ia butuh. Ia sudah mau tigapuluh.
Luna hampir saja menghantam cermin di toilet pribadi di hadapannya. Kenapa kini ia justru merasa lebih ragu, ketika ia sudah menetapkan mengubah keindahan dagunya. Dipandangnya dengan tak tetap wajah lesu di cermin itu. Dagu itu, indah baginya. Ia raba pelan. Kenyal dan kuat. Memanjang sedikit dan agak maju ke depan, lengkap dengan tekukan kecil di tengahnya. Seperti seusai operasi, ia tetap merasa puas dengan hasil itu. Tapi, sungguh, ia merasa tidak puas dengan reaksi yang didapatnya.
Tak seperti biasanya, lebih dari 40 menit ia termangu di depan cermin. Ia lupa harus segera makan malam jauh sebelum tidur, agar tak menjadi lemak yang berlebihan. Ia lupa besok pagi sekali ada rapat pemasaran. Ia lupa waktu bahkan dimana ia kala itu. Luna sudah tergolek kepalanya di depan cermin toilet. Ia tertidur. Entah malam sudah selarut apa. Dan yang lebih ia tak ketahui, wajah lesu di depan cermin itu tetap tegak dalam duduknya. Memandang Luna yang bibirnya sedikit terbuka, menghembuskan nafas agak keras. Mungkin karena begitu letih dan kecewa.

Wajah lesu di cermin toilet itu, sekali lagi, meneteskan airmata. Ia tak menghapusnya. Membiarkannya jatuh. Satu dua menimpa rambut hitam ikal Luna, yang entah di dunia mana.

ESOK paginya, beberapa karyawan di kantor pemasaran perusahaan produk elektronik asing asal Korea, melihat meja di salah satu sudut, tempat Luna biasanya ada, kosong. Berbagai peralatan kerjanya tampak berantakan. Laci terbuka. Tidak biasanya, untuk seorang perempuan yang tangkas dan bersih seperti Luna. Bahkan semua bisa melihat, sebuah kertas besar menempel di layar monitor komputer personal pegawai cukup senior itu, dengan satu tulisan spidol besar, “Sedang Cuti”.

Tak ada yang tahu, kapan Luna mengajukan cuti kerja. Selain ia jarang mengambil cuti, kalaupun akhirnya ia ambil, berminggu sebelumnya sudah ia ramai bicarakan rencana-rencananya. Benarkah Luna cuti? Kemana ia sebenarnya? Pegawai dari bagian cleaning service memberitahukan, Luna memang pulang agak lat malam sebelumnya. Beberapa teman kencannya di luar juga tak menjumpai Luna malam kemarin. Tidak biasa.
Sementara di rumah kontrakannya, di toilet persisnya, di dalam cermin khususnya, tampak Luna masih tergolek pulas dengan kepala jatuh di meja rias. Hari sudah tinggi, dan sinar hangat mulai menembus kisi-kisi tirai jendela. Luna-dalam-cermin itu tampak menggeliat dan sangat perlahan mengangkat kepalanya. Ia mulai siuman dan menyadari pagi sebentar lagi akan lewat. Dan seperti biasa, otomatis, ketika berhadapan dengan kenyataan-di luar-cermin, ia akan mengamati dengan seksama wajahnya yang tiap pagi ada di situ. Mengusap-usap seluruh bagiannya dan terakhir jatuh pada dagunya.
Dan betapa terkejut Luna saat ia menyadari dagunya kini sudah berubah lagi. Tak lagi sedikit panjang dan menukik dengan lekukan kecil di tengahnya. Tidak lagi manis seperti artis-artis itu. Kini ia kembali seperti semula, kecil, penuh dan pendek! Tepat dalam kondisi prima tradisionalnya. Luna-dalam-cermin memandang dan meraba tiada habisnya. Apa yang telah terjadi. Mimpikah ia? Atau dagu operasi itu sebenarnya yang cuma mimpi?
Ia memandang Luna di hadapannya. Tepatnya, ia mencari Luna. Karena Luna yang biasanya tiap pagi bercermin, kini tak ada di tempatnya. Kemana dia? Apakah saat aku tertidur ia sudah siuman lebih dulu? Melihatku masih pulas? Atau.... Kemana Luna?
Dalam gugupnya, Luna-dalam-cermin memutar pandangan ke seluruh arah. Sampai akhirnya ia tiba pada salah satu sudut meja rias. Dan ia terpekik, menyaksikan bagian itu dipenuh oleh cairan kental berwarna merah gelap. Ada apa? Ia tidak dapat melihat, di bagian bawah ujung meja rias itu, di bawah darah yang satu-satu masih menetes itu, beberapa sayatan daging kecil tampak menggeletak, menggelepar.
Ia tak tahu. Dimana Luna?
Jakarta, 2007

Batu Menangis Dan Sore Yang Ganjil

Cerpen Radhar Panca Dahana

BARANGKALI seperti kata orang, kami kembar identik. Tapi, sejak puting susu pertama disodorkan ke mulut kami yang berteriak, satu relasi penting –bahkan eternal—segera kami sadari: persaingan. Kalau Nano dapat berbuat apa saja, aku pun dapat berbuat serupa, bahkan merusaknya dengan hasil yang sama sempurna. Jika dia dapat buang air kecil dan besar sambil berdiri, kenapa aku tak juga melakukan hal yang sama?

Berdua, kami kepala batu. Lebih karang dari Pratapa, lelaki yang mengaku ayah kami, yang 15 tahun lebih mendidik kami seperti mengajar batu. Baginya, tak ada pembagian yang bernama jenis kelamin, terutama dalam pekerjaan. Nano mengangkat batu, aku mengangkat batu. Nano mengukir batu, aku mengukir batu. Pratapa adalah pengrajin batu, seperti ia merajini kepalanya sendiri.
Kami tidak pernah menangis. Bagaimana batu bisa menangis? “Tangis itu musuh batu. Karena air itu waktu. Karena airlah batu terkikis dan habis.” Sekali itu saja, Pratapa memberi ajaran dengan kata-kata, yang kemudian menjadi moral-tunggal bagi kami berdua. Dan dengan itu Nano berkembang menjadi lelaki perkasa, dengan tubuh liat, dengan otot hidup yang menggelinjang di balik kulitnya.
Aku tidak seperkasa itu, kuakui. Tapi aku mengatasinya dengan kelincahan luar biasa. Karena itu kami mampu mengangkut batu sama banyaknya. Karena itu kami berdua berlari sama cepatnya, dengan celana pendek maupun rok panjang yang diberikan Pratapa pada kami. “Nana, kamu perkasa sekali.” Sekali pernah kudengar komentar Nano tanpa tendensi. Sebentar aku merasa jijik, sebentar kemudian aku mulai menghargainya.
Penghargaan itu, entah kenapa, menebal setelah kami melewati usia empatbelas. Tak ada penanda umur di keluarga gunung ini. Waktu adalah musuh abadi keluarga kami. Aku mengetahuinya dari seorang tetangga, yang melihat perbedaan perkembangan tubuhku, dibanding Nano. Pinggulku membesar dan dadaku membukit, kecil padat.
“Sudah perawan. Berapa umurmu, Na?” kata Pradata, tetangga spesialis pemecah batu.
Lelaki itu juga yang memberitahu panjang usiaku saat itu.
Aku tidak tersinggung. Aku mengamati diri sendiri. Aku mendapati bercak merah di celana pendekku satu kali. Aku memperhatikan Nano. Kurasa ia tidak mengalami hal serupa. Ia pasti juga tidak memiliki perasaan serupa denganku, saat aku mengamatinya. Dan jijik, aku dengan perasaan itu. Semula menghargai, kemudian mengagumi, akhirnya ingin memiliki. Apa pun yang ada dan dapat dilakukan Nano. Ototnya, jakunnya, pundaknya, perut bertelurnya, panjang penisnya, kakinya, suara beratnya, semua...!
Dan perasaan menjijikan itu menjadi siksaan. Terutama setelah setahun kemudian kami dipisahkan, oleh longsor dan banjir bandang yang menyerbu semua desa seputar gunung ini. Pratapa ditemukan mati. Murdipa, perempuan yang kukenal sebagai ibu, meringkuk di sebelahnya. Mati juga. Nano entah dimana. Berbelas tahun setelah itu, tak ada yang berhasil menjumpainya.
Aku tidak pernah ikut mencari. Aku memikirkannya selalu. “Kamu rindu,” kata Praswara, keluarga entah dari jalur mana, yang kemudian memeliharaku. Mungkin. Aku rindu, tanpa mengerti makna itu. Aku memikirkannya. Terutama hal-hal yang membuatku tersiksa: Nano dengan segala yang dimilikinya. Siksaan yang bertambah berat setelah kejadian aku menemukan Pradata, tiba-tiba ada dan mendengkur di sebelahku saat aku bangun tidur di bengkel batu.
Tubuh dan bajuku semrawut rasanya. Kudapatkan bercak darah di celana sebelum waktunya. Sekonyong aku merasa sangat jijik pada manusia yang terlentang di sebelah, dengan bulu dadanya yang kumal dan terasa gatal. Aku merasa takut. Jijik, benci, kotor, kumal, jeri, pusing, dan semua perasan negatif menyerbu. Pandangku nanap. Aku begitu saja mengambil batu yang berserak dan memukul kepala lelaki tidur itu. Lalu pergi dengan sedikit rasa lega.
Setelah itu aku adalah diam yang lebih diam dari diamku selama ini. Hanya Nano dalam pikiranku. Pikiran yang membuatku merasa muak melihat manusia-manusia lain. Dari berbagai jenis. Dan pikiran itu, sekali lagi, menyiksa. Siksaan yang sedikit lerai ketika kupukulkan kepalaku ke batu, atau minum air sebanyaknya sehingga aku tak bisa tidur, sulit bernafas dan merasa melayang. Atau menggoreskan alat ukir ke dagingku sendiri. Kebiasaan yang kini bergeser ke beberapa binatang kecil: kodok, kadal, ikan, dan terakhir tikus.
Aku mengukir batu di daging tikus. Darahnya yang menetes, setelah tikus itu kulepas, seperti penunjuk jalanku menuju Nano. Betapapun aku tak tahu dimana itu. Beberapa kali kesal, akhirnya tikus yang terseok itu kulempar batu. Cukup kuat, tentu. Bagaimana kemudian tikus itu, tentu siapa pun tahu.
Aku terus memburu tikus. Mencipta jalan darah, menuju Nano.

Batu Ketapel Rasol

Pertemuanku dengan Rasol terjadi secara tidak sengaja. Pulang sekolah, sepuluh tahun lalu, seperti biasa aku menyusuri jalan raya sendiri. Dekat pintu kereta, aku melihat sebutir uang logam seribuan di badan jalan, mengerdip ditimpa matahari. Reflek aku mendekat dan coba mengambilnya. Belum tersentuh logam itu, sekonyong tenaga yang sangat kuat menyentak tas punggung, dan mendorongku hingga terjerembab ke pinggir jalan.
Aku terkejut dan tentu harus marah besar. Tapi di detik itu pula kusadari, sebuah motor melaju hanya beberapa senti dariku. Umpatan kasar pengendaranya terdengar menjauh. Aku memandang dengan mata nyalang ke atas: seorang bocah –betapapun kupikir dia dua-tiga tahun lebih tua dariku—berdiri lurus di sisi pinggangku. Bibirnya mencemooh, lalu pergi begitu saja. Tangannya mengayun kecil, sebutir logam ribuan jatuh tak jauh dari hidungku.
Aku tidak tahu harus mengucapkan apa. Beberapa lama terdiam, akhirnya dengan logam seribuan tergenggam aku berusaha mengejar “bocah” itu. Tak berhasil. Lima hari kemudian hasil itu kudapat. Bukan mengejar, namun menemukannya di pinggir kali dekat kampung tempat tinggalku. “Rasol,” ia menyebut diri setelah pada akhirnya kami berkenalan.
Aku tidak bertanya apa yang ia lakukan di pinggir kali. Aku melihatnya. Ia membawa sebuah botol, dengan isi alkohol kurasa. Ia, yang ternyata 2-3 tahun lebih muda dariku, begitu fasih dengan botol itu. Sekali aku menanyakan jenis isi botol itu. Ia tak menjawab tapi menyodorkannya. Seolah menguji pengetahuanku tentang jenis minuman. Biar tahu kebodohanku, kuterima botol itu dan coba menciumnya. Huh. Tajam dan menusuk!

“Minuman apa ini?” teriakku.

“Solar,” jawabnya datar.

"Kau minum solar?" bocah itu menggeleng. Aku hanya mencium baunya, katanya.
"Kalau diminum, sudah mati dari dulu aku," ketusnya lagi.
Aku tak bertanya lebih berikut. Hanya kutahu, nama Rasol berasal dari julukan teman-temannya karena kegemaran itu. Kutahu, beberapa tahun kemudian, ia berganti-ganti isi botol yang diciumnya. Dari solar, minyak tanah, spiritus, dan akhirnya bensin.
Tak tahu aku darimana ia berasal. Siapa keluarga, atau orangtuanya. Ketika kutanya, ia menjawab seraya tertawa, menyodorkan botol bensin dan bersuara –kering seakan derit roda kereta api, “ Ini ibuku!” Begitupun saat kutanya ayahnya, wajahnya menggeram dan tangannya mengeluarkan sebuah paku besar bergagang kayu, yang telah pipih dan menjadi tajam karena dilindas roda kereta. “Ini bapakku!”

Hingga umur 22, aku berkawan dengannya. Menyaksikan ia ngamen di perempatan jalan, menggoda pengemis perempuan setengah baya –bahkan mungkin memperkosanya—menjambret tas karyawati yang pulang selepas maghrib, atau...onani di kolong jembatan seraya memperhatikan perempuan-perempuan yang lalu di atasnya. Saat usia 14, ia mengajakku merampok anak sekolah menengah agama dekat stasiun kereta. Anak sekolah itu melawan. Rasol menghajarnya habis, mematahkan tulang hasta anak sekolah itu, merebut dompet yang ketat digenggamnya.

Sebenarnya aku takut. Tapi Rasol seperti menghisap. Ia tak mengganggu apalagi memeras atau merampokku. Ia tahu ayahku orang sederhana. Pegawai jawatan kereta api rendahan. Bahkan ia sering memberiku makanan, kadang uang. Dan aku tidak menolaknya.
Aku pun tidak menolak belajar menggunakan ketapel darinya. Dengan batu-batu yang menghampar di sekujur rel kereta, aku berusaha membidik sehebat Rasol. Burung, adalah sasaran utama Rasol. “Aku benci burung. Seenaknya ia terbang kemana saja, hinggap dimana saja. Emang dunia milik dia?!” Lalu ia melentingkan karet ketapel, membidik, dan satu burung akan jatuh. Ia tidak peduli jatuh dimana. Ia yakin, burung itu pasti mati.
Sampai satu ketika, ia meleset. Batu kecil yang ia ketapel tidak mengena sasaran, tapi membentur tiang listrik dimana burung itu bertengger. Kerasnya lontaran, membuat batu itu deras memantul, menimpa daging lembut di kening Rutri, adikku. Dua hari Rutri di rumah sakit dan pulang dengan delapan jahitan. Rasol hilang. Aku tak berhasil mencarinya. Berhari berminggu.
Sampai kutemukan tempat ia biasa menginap. Hal paling rahasia darinya. Sebuah ruang kecil di antara kayu-kayu peti di pojok pasar dekat stasiun. Beberapa benda mengonggok begitu saja: radio kecil, beberapa pisau paku belum bergagang, celana dalam perempuan, foto-foto porno, makanan kering, botol-botol berbau bensin, dan sebuah gambar potongan koran. Kukenali sebagai gambar seorang jenderal besar di masa revolusi dulu. Kenapa? Entah.
Dan, sebuah ketapel baru. Licin, bagus bentuknya. Seperti sengaja diletakkan untuk kutemukan. Aku merasa ketapel itu titipan, atau hadiah Rasol untukku. Kuterima dengan hikmat. Kugunakan dengan baik, dengan teknik yang kudapat dari Rasol. Sasaranku adalah apa pun yang terasa paling tinggi untukku. Pucuk daun, atap rumah, layangan, tiang listrik, atau pesawat terbang.
Jauhnya lontaran batu ketapel, menurutku adalah jarak dan arahku menemukan Rasol.

Kolonel Jon Dukusemak

Panggil saja aku, lelaki 40 tahunan ini, “Jon”, dari Sir Marjon Dukusemak. Anakku dua, istriku –Drita—sarjana magister untuk manajemen. Kami keluarga bahagia, tepatnya: menjanjikan. Rumahku cukup bagus, tidak mewah. Sebuah jip sederhana, berusia hampir setengah umurku, mengantar kami sekeluarga menjalankan wajib hidup tiap harinya. Penghasilan istriku delapan juta sebulan, kotor. Aku sekitar tiga jutaan, bersih. Kami pekerja keras. Untukku, sangat keras.
Baru sepuluh bulan lalu, sebagai prajurit aku masuk jajaran perwira tinggi: kolonel, karena prestasiku memimpin misi pasukan perdamaian internasional di sebuah negara konflik di tengah Afrika. Baru sejak enam bulan lalu, aku tergolek di rumah sakit ini, dua kali lima jam tiap minggunya. Perawatan permanen yang harus kujalani seumur hidup. Satu bentuk pengobatan yang membuatku lumpuh sepanjang setengah dari waktu hidup yang tersisa untukku.
Kecelakaan berat terjadi saat aku memimpin satu latihan tempur. Tiga belas tulang rusukku patah, setengah badan tak dapat bergerak selama dua minggu, delapan belas jahitan di ubun-ubun, kedua ginjal bocor, dan infus darah dua kali seminggu selama dua bulan. Tiga minggu dirawat rumah sakit, aku keluar dengan satu pekerjaan tambahan: hemodialisis.
Dunia memang tidak selesai. Tapi waktu berhenti. Rutin pengobatan itu memang tidak membunuhku, malah membuat hidupku bertahan (satu hal yang kemudian kusesali). Tapi dunia sekeliling kini hanyalah tempat pemakaman untukku. Aku menjauh dari istri dan Drita seperti mengubur jutaan keluhan di palung mata dan gurat bibirnya. Tugasku pindah dari lapangan ke sebuah meja di markas besar, dan aku tak bisa lagi memegang pistol tanpa gemetar, bahkan hanya untuk mengangkat anak bungsuku.
Dunia memang tidak selesai. Namun pertunjukan usai. Lampu-lampu menjadi gulita, panggung lengang, cerita hampa. Aku aktor yang bermain tanpa peran. Aku aktor yang cuma terdiam, saat lawan mainku di sebelah, berteriak-teriak minta mati. Lalu ia mati, ketika jarum suntik masih menghujam dan berbagai selang mengurung tubuhnya. Temanku bicara, Pak Lakatepa, terjatuh di kamar mandi suatu pagi, saat ia menyanyikan lagu “Darah Muda”, dan ditemukan tewas hanya tiga menit setelahnya.
Banyak cara menyelesaikan dunia, bagi sejawatku di ruang dialisis. Pedagang India itu menghabisi nyawanya dengan mengunyah satu porsi daging kambing di depan istrinya yang sangat cantik. Seorang pejabat pemerintah, yang baru saja kawin keempat kalinya, menyusuri pantai dekat rumah peristirahatannya sambil membawa sesisir pisang ambon. Buah paling berbahaya. Sore hari, ia ditemukan kaku disiram air pasang. Pisang sesisir belum habis dinikmatinya.
Dan aku tahu, sebagai aktor aku harus menyelesaikan drama menggelikan ini. Aku tidak akan bermanis-manis. Tidak membalas dendam semua larangan yang ada padaku. Tidak mau mautku datang seperti pencuri tengah hari. Tidak. Aku harus mati dengan keras. Laiknya seorang prajurit. Aku harus turun panggung dengan tegas, mendebat sutradara mengapa peranku jadi kosong belakangan ini.
Aku lalu berjalan. Berjalan. Berjalan.

Perempuan yang Tersenyum

KU bisa saja menjadi pelacur. Dan bukan karena Tuhan tidak mengizinkan atau aku tidak menginginkan. Tapi tak ada yang mau membayarku, atau menawariku tidur dengan imbalan berapa saja. Tubuhku langsing padat, kulitku kuning langsat, bola mataku hitam padam, tak berkerut di mata maupun dahi, kecuali sedikit lesung di pipi. Bibirku bergaris kuat, dan senyum tak pernah pergi darinya.
Senyum bukan tradisi di wajahku, bukan bawaan hatiku. Senyum adalah terapi terbaik untuk pikiran dan perasaanku. Sejak Darius, suami yang memberiku tiga putra, kena PHK dari perusahaan sepatu asing, senyum menjadi obat bagi semua hal yang menghimpit, memuakkan, dan kerap memintaku membunuh diri atau membunuh siapa, apa pun.
Ketiga anak kami hanya berselang rata-rata enam belas bulan. Yang terbesar baru lima tahun. Dan Darius adalah suami sejati. Pergi pagi pulang petang hari. Tanpa buah tangan sama sekali, tapi meminta nasi dan lauk harus siap tersaji. Meminta televisi dan wayang kulit radio tetap menyala. Meminta kupijat tiap malamnya. Meminta servis lebih setiap menjelang paginya. Meminta sebagian modal dagang kainku menjelang berangkatnya.
Darius menjalankan tugas lelakinya dengan setia. Soal hasil nomor dua, atau dua ribu tiga, tak berubah makna. Aku upayakan semua. Menyusui, memasak, memandikan, bersih rumah, cari uang, belanja, menghadapi rentenir, menyambut tamu er te, bersihkan halaman dan kebun singkong, mencuci mobil pik-ap yang berganti pakai dengan Darius.
Hari-hari ini, tak ada harga yang tak naik. Cuma pembeli kain dan harapan yang turun drastis. Biaya te ka si sulung pun naik. Air ledeng naik. Gas naik. Listrik naik. Telepon naik (sudah kuputus dua minggu lalu). Bahkan Darius naik makin tinggi tiap menjelang pagi. Seluruh yang ada dalam tubuh dan pikiranku turun. Kecuali tekanan darah, dan gejolak –entah apa—yang belakangan kuyakin meninggi cepat.
Seminggu lalu, Darius meminta seluruh modalku, untuk modal bisnis barunya. Ia pertaruhkan seluruh yang ia miliki (entah apa), kalau perlu perkawinan ini (entah kenapa) untuk membuatku percaya. Aku tak percaya. Tapi kuberikan modal itu padanya. Dan ia memenuhi kebutuhan harian kami. Selama seminggu. Setelah itu ia tak pulang. Aku tahu, ia kalah judi –bisnis baru yang disebutnya itu.
Kini tinggal pik-ap berharga tak seberapa. Selebihnya, rentenir, pak er te, te ka si sulung, utang kain, belanja, susu, harga meninggi, dan bibirku yang tersenyum. Bukan lagi obat, ia adalah senjata. Karena semua kini kuhadapi dengan senyum. Kata-kata sudah cukup lama aku tak punya. Terserah bagaimana orang menanggapinya. Aku tersenyum. Aku tersenyum menyusui anakku dengan tetek yang kering. Aku tersenyum saat utang belanjaan. Tersenyum saat pak er te menjawil pantatku. Tersenyum saat kuputar kepala ayam tetangga untuk makan tengah malam anakku.< Menjelang maghrib ini, aku pun tersenyum. Dadaku penuh dan kosong. Baru saja kuikat mulut, kaki, dan tangan ketiga anakku. Kubawa dengan pik-ap, dan kubuang mereka di sungai yang diderasi hujan gunung. Aku tersenyum saat banyak orang memaki karena pik-apku melewati begitu saja lampu merah. Aku pun tersenyum, ketika... Dan Suatu Ketika...

EMPAT kudengar lelaki separuh baya, berwajah lebih tua, pucat, kurus tapi gagah itu mengumpat, ketika ia menginjak tubuhku dan tergelincir karenanya. Seharusnya ia bersyukur, karena dengan tergelincir, lelaki berseragam militer lengkap itu, selamat. Sebuah pik-ap yang melaju kencang dari arah Selatan tidak jadi membenturnya.
Pik-ap itu seperti melintir, justru bergerak ke samping dan mengarah seorang lelaki tegap yang baru saja mulai menyeberang jalan. Benturan akhirnya terjadi keras. Lelaki tegap itu terlontar cukup jauh. Kuyakini tubuh, terutama dada dan kepalanya, hancur. Orang-orang segera berkerumun. Coba menyelamatkan. Tapi desahan nafas banyak orang memberitahuku, upaya mereka sia-sia. Kecuali satu keluhan, begitu dalam melebihi tangisan. Suaranya lirih terdengar dari seorang wanita yang bersimpuh di sisi mayat hancur, “Nano...Nano...mengapa begini...mengapa begini?” Suara wanita itu kemudian tenggelam dalam keributan.
Beberapa detik aku sempat menengok pik-ap terguling. Satu wajah muncul di balik kaca yang pecah. Wanita cantik, kering, bermata dalam, kerut tajam di pipi, dan bibir tersenyum abadi. Aku bergidik. Hingga tak sadar ketika sebuah kaki yang keras menyepakku. Kaki lelaki militer itu. Umpatannya keras dan tinggi ke arahku.
Aku terlontar keras sekali. Jatuh di aspal, menggelinding dan terjun ke sebuah selokan. Kejatuhan keras kedua. Yang pertama beberapa menit lalu, aku dilentingkan dari ketapel seorang pemuda, ke arah burung merpati di sebuah menara. Tubuhku menghujam keras, menembus daging burung itu, mengoyak dadanya dan terus mendesing, jatuh berdebam di aspal, bersamaan dengan bangkai burung itu.
Di aspal itu, sepatu kulit lelaki militer menginjak dan memelintirku. Dan seterusnya. Kini tubuhku basah dalam selokan. Bukan lagi basah darah burung merpati. Darah itu sudah terkikis habis oleh air. Entah air selokan. Entah airmataku. Aku termangu. Banjir air di tubuhku. Pertanda buruk bagi batu. Dan air itu, terus menyeretku.