Wednesday, January 7, 2009

Pameran Enam Perupa , Merebut Ruang dari Sejarah Ruang


Sebagai sebuah bahasa, ekspresi atau alat ungkap manusia, lukisan atau karya rupa memiliki model dan sistemnya sendiri. Sistem atau model yang bagi Frederic Jameson memiliki sejarahnya sendiri, dan sejarah itu tidak lain adalah sejarah pemikiran. Di dalam sejarah inilah, manusia ditemukan. Tepatnya: menemukan dirinya sendiri.

“Manusia itu seperti bahasa,” kata Julia Kristeva yang kemudian melanjutkan, dalam bahasalah terjadi demistifikasi secara paripurna dari kenyataan manusia yang sebelumnya tenggelam dalam kepurbaan. Dengan bahasa itu pula, sebenarnya manusia memutus rantai penghubung eksistensialnya, secara sangat revolusioner dan permanen, dari kenyataan animalistiknya di 35-40.000 tahun yang lalu, di kala manusia Nanderthal, homo sapiens terakhir lenyap.
.Dalam bahasanya sendiri, bahasa yang piktoral, sebuah lukisan/rupa kemudian menjelaskan diri/manusia dan semua gejala alam (juga budaya dan adab) yang mengitari dan mengikutinya. Lewat apa yang disebut kode-kode figuratif dalam istilah Schefer di bukunya, Le langage visible: la peinture, sebuah karya rupa mencari dan menciptakan hubungan dengan kenyataan.
Ruang kenyataan –yang semula begitu mistis—dituang ke dalam garis, warna dan ruang rupa, serta menciptakan dialog atau diskursus di antaranya, perlintasan bahkan konflik di antar penanda dan unit-unit semantik dan sintaksisnya, sehingga akhirnya ia muncul menjadi teks yang berbeda, yang kembali menurut Schefer, menjadi sebuah ruang kultural.
Pertarungan Obyektivasi
Dalam ruang baru inilah, masalah lanjut muncul, ketika sebuah lukisan atau karya rupa menjadi sebuah teks yang terangkat dari posisi figuratif/piktoral (bahkan dalam arti luas sebagai tanda-tanda ikonik), ia tidak lagi berposisi sebagai representasi langsung, mimesis dari kenyataan, namun “un simulacre entre-le-monde-et-le-langage”, menjadi sebuah kenyataan virtual yang berada antara dunia (kenyataan) dan bahasa.
Apa yang terjadi di wilayah simulakra ini, adalah sebuah proses obyektivasi (peng-obyek-an) ruang berdasar intensi atau pretensi para aktor (kekuas(t)an) yang ada di sekitarnya. Ruang kenyataan pun tidak lagi bebas, setidaknya bebas dalam (kodrat) dirinya sendiri; bebas dalam menentukan karakter, wujud, tabiat, tujuan dan pada akhirnya makna bagi dirinya sendiri. Ruang menjadi sebuah medan pertarungan obyektivasi, pertarungan kekuat(s)an –politik, ekonomi, agama, dsb—sehingga kerap ia hanya berposisi sebagai “tempat”. Sebuah etalase, dimana kita men-tempat-kan sesuatu (yang mungkin menjadi simbol hegemoni) kita di dalamnya.
Dalam perspektif ruang seperti ini, sebuah refleksi yang memancar ke berbagai dimensi kehidupan pun dapat terlihat. Betapa ruang-ruang sosial, politik, hingga ruang pribadi manusia, kini tidak lagi bebas menentukan dirinya sendiri. Ia sudah disempitkan, dibaku dan dibekukan, bahkan diawasi dengan ketat oleh para subyek yang menciptakan obyek-obyek itu. Dan akan sangat menggiriskan bila senirupa, sebagai salah satu penanggungjawab utama yang berjuang membebaskan ruang, ternyata justru tenggelam di dalam permainan itu, bahkan ikut “bermain” atau menjadi pelaku ikutan dari proses obyektivasi ruang (kebebasan) itu.
Dengan kegelisahan itulah mungkin serangkaian karya dari enam perupa Indonesia yang memenuhi O House Gallery, hingga 20 November 2008 lalu, dapat dibaca dan dimaknai. Made Wianta, Yani M, Sastranegara, Hanafi, Firman Djamil, Eko Prawoto, Hardiman Radjab, enam perupa dengan variasi basis dan disiplin, seperti ingin meneguhkan bagaimana ruang dan rupa dapat merangkai sebuah mutualitas yang segar, jujur, egaliter, terbuka, bahkan radikal.
Posisi Baru Tubuh

Instalasi “Jalan Setelah Mata” Wianta, yang menggunakan otot-otot besi yang lentur dan penuh tenaga, mengisi hampir semua lorong pameran, tanpa menyentuh dinding. Seperti sebuah penegasan: ia tidak membutuhkan matra bi-dimensional lagi untuk berada dalam isi, bahkan menciptakan ruangnya sendiri dalam isi (volume) ruang yang ada, hanya dengan garis-garis besi yang seakan menciptakan lebih dari satu teks, tapi sebuah textum, rimbunan teks yang tiada pangkal dan ujungnya.
Begitupun, kertas-kertas tisu basah yang dipilin begitu rajin dan disiplin oleh Yani, seperti garis-garis “hujan putih” alias “Titian” garis pikiran yang lunak dan rapuh, namun ternyata menembus rumputan, daun-daun, batang pohon hingga beton-beton ruang pameran. Membentuk sebuah pernyataan kebebasan sekaligus kekuatan (tak terkira) dari bagian terapuh dan terlunak kita: pikiran. Bahwa gagasanlah yang akan mampu menembus semua penjara obyektivasi dan pelbagai kepentingan yang bermain di dalamnya.
Memang demikianlah, gagasan dan pikiranlah yang berdiam dalam bahasa, yang kemudian menjadi motor bergeraknya manusia, berubah dan berkembangnya peradaban. Maka bermainlah mereka dalam kedalaman gagasan, bukan dalam sensasi kebutuhan dan pragmatisme. Sebuah ide yang coba dimainkan oleh Hanafi dalam beberapa lukisannya, tentang seorang perenang yang mencoba merengkuh batu, sebagai sebuah metafor keabadian yang hiper-pasif, dan hanya ada di kedalaman.

Lewat berbagai karya itu, ruang-ruang di galeri O House seperti menawarkan tidak hanya posisi baru bagi manusia, bagi tubuh yang mencoba masuk ke dalamnya. Tapi juga sudut pandang, angle, yang akan menentukan bagaimana posisi itu berayun, bermain atau dimainkan. Karya-karya Wianta, Yani, juga Eko Prawoto, arstitek yang membangun impresi garis-garis kuat lewat permainan jajaran bambu dengan refleksinya pada kaca, air, dan bayangan matahari, membuat sudut-sudut konvensional yang selama ini dipengaruhi oleh gravitasi dan arsitektur tradisional menjadi pecah.

Segala sudut, dalam derajat berapapun, kini memiliki posisi eksitensial yang sama. Seperti relativitas ruang dan waktu Einstein yang merapuhkan pemahaman sakral newtonian. Dan kita seakan dapat meletakkan mata dan kepala kita dimana-mana, dalam posisi apa saja –miring, tidur, terbalik, berputar arah, dan sebagainya—dalam kedudukan yang setara, egaliter, dan demokratis dalam makna ideal yang sebenarnya.

Bersama statement-statement kritis dari Firman Djamil tentang direnggutnya ruang tradisi dan budaya asmat dari ikon modernitas, atau “Fiat 1100-39”-nya Hardiman yang menghardik kekinian melalui daya hidup sebuah klasisitas sebuah sedan Fiat kuno, pameran “Ruang yang Datang ke Atas” ini pun menjadi semacam sebuah deklarasi kembalinya subyek-subyek di dalam ruang-ruang kehidupan kita.

Subyek-subyek yang seharusnya mengambil peran, menjadi aktor utama bagi pendefinisian-diri ruang hidup mikro dan makro kita. Ruang hidup yang selama ini bukan saja kita lupakan, tapi juga kita perdaya, ekploatasi, kita manipulasi. Di sebuah ruang yang membentuk sejarahnya sendiri, merebutnya dari sejarah dominatif yang hadir di seputar kita, di dalam kamar tidur, hingga ruang di dompet kita.

Menggugat Kapitalisme: Ambisi Tuhan-Manusia

Oleh Radhar Panca Dahana


Banyak kecurigaan, krisis finansial yang terjadi belakangan ini hanyalah siasat kecil dari penguasa kapital global untuk mengembalikan dominasinya, melalui berbagai lembaga keuangan dunia. Menjerembab kembali negara-negara berkembang dan terbelakang dalam skema kredit atau utang, yang beberapa tahun lalu “berhasil” meluluhlantakkan fundamen ekonomi serta diobral habisnya aset negara-negara tersebut.


Permohonan beberapa negara Asia, Afrika, Amerika Latin bahkan Eropa Timur pada IMF untuk mendapat pinjaman kembali serta kesiapan Bank Dunia menggelontorkan 100 trilyun rupiah hingga 2009, menunjukkan bukti untuk itu. Krisis finansial saat ini kemudian dipahami bukan lagi sebagai krisis ekonomi yang murni, yang nyata, namun sekadar layer depan dari beberapa hidden scenario dari pemegang kapital raksasa dunia, untuk antara lain menciptakan satu tata ekonomi global baru demi status quo.

Ada beberapa skenario-tersembunyi yang dapat terbaca. Hal yang paling jelas dari bacaan itu adalah realitas dimana kapitalisme sudah berkembang demikian rupa, dimana modal tidak lagi dioperasikan untuk satu kegiatan produktif dalam arti tukar-menukar produk material sebagaimana pemahaman pasar tradisional. Namun pertukaran itu sudah berubah menjadi jual beli modal itu sendiri, bukan secara fisik, tapi dalam nilai-nilai yang didenominasi ke dalam bentuk lain: virtual, terutama.

Apa yang terjadi kemudian adalah pasar “kapitual” (kapital-virtual), pasar modal dalam bentuk virtual, dimana yang bermain sesungguhnya adalah politik pencitraan melalui penguasaan jalur-jalur mediatik dan otoritas (jasa) pemeringkat/penilai keuangan. Pasar dalam game di tingkatan abstrak ini tentu saja hanya dapat diikuti oleh mereka yang berada dalam posisi atau arus kebijakan di tingkat setinggi itu (elit). Dan pelaku pasar di bawahnya tinggal menerima limbah, tertimpa akibat: jadi korban tanpa daya untuk melakukan reaksi apa pun.

Pada titik ini sesungguhnya beberapa hal yang selama ini menjadi sumber kecemasan dan kecurigaan berbagai kalangan dunia terhadap kinerja kapitalisme –sebagai sebuah sistem—yang menindas, eksploatatif, bahkan rapuh bangunannya, memiliki bukti-bukti praktisnya. Korban-tanpa-daya di atas adalah fakta: kemiskinan tidak hanya sebuah akibat tapi juga semacam keharusan sistemik atau conditio sine qua non bagi berlangsungnya etos dasar kapitalisme yang selalu mendesak siapa saja untuk lebih kaya lebih kaya lebih kaya...dst.
Pemiskinan Sistemik

Kapitalisme di negeri-negeri berkembang, khususnya non-oksidental, memang problematis sejak awalnya. Ia tidak dimulai, antara lain, oleh struktur sosial yang serupa dengan apa yang ada di tanah kelahirannya. Lewat berbagai karakteristik dan unikum lokalnya, kapitalisme negeri berkembang berlangsung bukan untuk menciptakan keseimbangan, kesetaraan atau kesejahteraan bagi semua elemen masyarakat/bangsa di negeri bersangkutan. Tapi justru sebaliknya.

Persoalan di antaranya ada pada asas laissez faire, dimana setiap pihak (seakan) memiliki hak dan peluang yang sama untuk merebut akses atau kesempatan ekonomis yang ada atau disediakan. Namun kenyataan sosial-politik-ekonomi-kultural yang ada di masyarakat-masyarakat tersebut justru menciptakan keadaan yang membuat proses ekonomi pun berlangsung secara terbalik atau bertentangan dengan asas itu.

Hal itu terjadi ketika hak dan peluang –mau tak mau—harus dipahami oleh bagaimana struktur sosial yang ada mendistribusi prasarana-prasarana (politik, ekonomi, dsb) kepada tiap elemen masyarakat, untuk dapat mengoperasikan hak dan peluangnya masing-masing. Distribusi itu dalam kenyataannya sesungguhnya sudah timpang. Dimana segolongan kecil bangsawan tradisional lebih memiliki kemampuan untuk mengakses, memiliki dan mendayagunakan prasarana-prasarana tersebut.

Maka seorang pengusaha dari kalangan bangsawan (pemodal besar), misalnya, akan memiliki prasarana modal, jaringan, birokrasi, dan infrastruktur lain yang lebih kuat ketimbang pengusaha non-bangsawan (pemodal kecil). Katakanlah, pengusaha bermodal Rp1 miliar tentu saja memiliki “hak” dan “peluang” yang jauh lebih besar ketimbang mereka yang bermodal Rp 10 juta atau kurang dari Rp 1 miliar.
Konsekuensi logisnya, hasil atau keuntungan yang diperoleh oleh masing-masing pemodal pun –tanpa menghitung kasus—adalah kelipatan wajar dari nilai nominal dasarnya. Bahkan dengan peluang yang berlipat lebih besar dari pesaing kecilnya, pemodal besar pun dapat menggandakan modal serta keuntungannya, untuk meninggalkan sang pemodal kecil jauh di belakangnya. Bahkan pada titik tertentu, pada nafsu kekayaan tak terbatas hingga ke tingkat greedy (serakah), pemodal besar sebenarnya sudah merebut –tak hanya hak dan peluang tapi juga—keuntungan dari pemodal kecil.
Di sinilah, proses pemiskinan secara sistemik sudah menjadi keharusan kapitalistik.


Puncak Nafsu Manusia

Ilustrasi kecil di atas, sebenarnya hanyalah satu di antara sekian banyak bukti dari sudah tidak kapabelnya lagi kapitalisme sebagai sistem yang menggaransi kesejahteraan masyarakat, garansi bagi pemuliaan manusia, sebagaimana jargon-jargon klasiknya. Karena juga, antara lain, kapitalisme sudah kehilangan kemampuan –juga karena absennya premis-premis dasar untuk itu—dalam mengontrol apalagi menghentikan gairah atau nafsu manusia untuk meraih kekayaan (kekuasaan dalam arti lain), dengan cost apa pun dan berapa pun.

Absennya perangkat mental, sprititual bahkan pula intelektual itu juga membuat manusia tidak mampu lagi berseru “enough!” alias “cukup!” bagi dirinya sendiri. Hal ini membawa akibat lebih jauh yang cukup menggiriskan. Pertama, sebagaimana kita mafhum, sumberdaya natural yang ada pun diperkosa habis-habisan untuk menghasilkan keuntungan tanpa batas, hingga di titik alam menjerit dan membalasnya dengan semacam kemarahan lewat bencana tiada habisnya.

Kedua, petambahan kapital hingga ke tingkatan hampir tak terukur (sebutlah data misalnya, yang mengatakan akumulasi modal dari elit kapitalis dunia yang nilainya lebih dari 10 kali PDB dunia, 60 kali PDB Amerika, 1.000 kali PDB Indonesia), menciptakan sebuah kebutuhan absurd dimana nilai kekayaan tidak lagi didasarkan pada nilai riilnya, namun dengan persepsi abstrak yang dikenakan padanya. Inilah yang bekerja di berbagai bursa dan pasar derivatif, yang jika ia sedikit saja terguncangan pun terjadi pada harapan puluhan atau ratusan juta penduduk di bawahnya.

Dan ketiga, yang paling mencemaskan, adalah ketika kemampuan material manusia sudah sampai pada tingkatan dimana ia dapat menentukan apa pun yang bersifat fana. Sebuah tingkatan yang mendorong ambisi kekuasaannya pun menohok ke tingkat “di atas” (beyond) dunia fana itu. Ia ingin juga menentukan nasib, takdir, masa depan, bahkan menaklukan waktu: menjadi tuhan bagi manusia lain. Pada saat itu, sebenarnya, godaan terberat iblis bekerja dengan baik. Tuhan mati tak lagi secara filosofis, tapi defintif. Di puncak kejayaan manusia. Di puncak kapitalisme. Katanya.

Batu Menangis Dan Sore Yang Ganjil

Cerpen Radhar Panca Dahana

BARANGKALI seperti kata orang, kami kembar identik. Tapi, sejak puting susu pertama disodorkan ke mulut kami yang berteriak, satu relasi penting –bahkan eternal—segera kami sadari: persaingan. Kalau Nano dapat berbuat apa saja, aku pun dapat berbuat serupa, bahkan merusaknya dengan hasil yang sama sempurna. Jika dia dapat buang air kecil dan besar sambil berdiri, kenapa aku tak juga melakukan hal yang sama?

Berdua, kami kepala batu. Lebih karang dari Pratapa, lelaki yang mengaku ayah kami, yang 15 tahun lebih mendidik kami seperti mengajar batu. Baginya, tak ada pembagian yang bernama jenis kelamin, terutama dalam pekerjaan. Nano mengangkat batu, aku mengangkat batu. Nano mengukir batu, aku mengukir batu. Pratapa adalah pengrajin batu, seperti ia merajini kepalanya sendiri.
Kami tidak pernah menangis. Bagaimana batu bisa menangis? “Tangis itu musuh batu. Karena air itu waktu. Karena airlah batu terkikis dan habis.” Sekali itu saja, Pratapa memberi ajaran dengan kata-kata, yang kemudian menjadi moral-tunggal bagi kami berdua. Dan dengan itu Nano berkembang menjadi lelaki perkasa, dengan tubuh liat, dengan otot hidup yang menggelinjang di balik kulitnya.
Aku tidak seperkasa itu, kuakui. Tapi aku mengatasinya dengan kelincahan luar biasa. Karena itu kami mampu mengangkut batu sama banyaknya. Karena itu kami berdua berlari sama cepatnya, dengan celana pendek maupun rok panjang yang diberikan Pratapa pada kami. “Nana, kamu perkasa sekali.” Sekali pernah kudengar komentar Nano tanpa tendensi. Sebentar aku merasa jijik, sebentar kemudian aku mulai menghargainya.
Penghargaan itu, entah kenapa, menebal setelah kami melewati usia empatbelas. Tak ada penanda umur di keluarga gunung ini. Waktu adalah musuh abadi keluarga kami. Aku mengetahuinya dari seorang tetangga, yang melihat perbedaan perkembangan tubuhku, dibanding Nano. Pinggulku membesar dan dadaku membukit, kecil padat.
“Sudah perawan. Berapa umurmu, Na?” kata Pradata, tetangga spesialis pemecah batu.
Lelaki itu juga yang memberitahu panjang usiaku saat itu.
Aku tidak tersinggung. Aku mengamati diri sendiri. Aku mendapati bercak merah di celana pendekku satu kali. Aku memperhatikan Nano. Kurasa ia tidak mengalami hal serupa. Ia pasti juga tidak memiliki perasaan serupa denganku, saat aku mengamatinya. Dan jijik, aku dengan perasaan itu. Semula menghargai, kemudian mengagumi, akhirnya ingin memiliki. Apa pun yang ada dan dapat dilakukan Nano. Ototnya, jakunnya, pundaknya, perut bertelurnya, panjang penisnya, kakinya, suara beratnya, semua...!
Dan perasaan menjijikan itu menjadi siksaan. Terutama setelah setahun kemudian kami dipisahkan, oleh longsor dan banjir bandang yang menyerbu semua desa seputar gunung ini. Pratapa ditemukan mati. Murdipa, perempuan yang kukenal sebagai ibu, meringkuk di sebelahnya. Mati juga. Nano entah dimana. Berbelas tahun setelah itu, tak ada yang berhasil menjumpainya.
Aku tidak pernah ikut mencari. Aku memikirkannya selalu. “Kamu rindu,” kata Praswara, keluarga entah dari jalur mana, yang kemudian memeliharaku. Mungkin. Aku rindu, tanpa mengerti makna itu. Aku memikirkannya. Terutama hal-hal yang membuatku tersiksa: Nano dengan segala yang dimilikinya. Siksaan yang bertambah berat setelah kejadian aku menemukan Pradata, tiba-tiba ada dan mendengkur di sebelahku saat aku bangun tidur di bengkel batu.
Tubuh dan bajuku semrawut rasanya. Kudapatkan bercak darah di celana sebelum waktunya. Sekonyong aku merasa sangat jijik pada manusia yang terlentang di sebelah, dengan bulu dadanya yang kumal dan terasa gatal. Aku merasa takut. Jijik, benci, kotor, kumal, jeri, pusing, dan semua perasan negatif menyerbu. Pandangku nanap. Aku begitu saja mengambil batu yang berserak dan memukul kepala lelaki tidur itu. Lalu pergi dengan sedikit rasa lega.
Setelah itu aku adalah diam yang lebih diam dari diamku selama ini. Hanya Nano dalam pikiranku. Pikiran yang membuatku merasa muak melihat manusia-manusia lain. Dari berbagai jenis. Dan pikiran itu, sekali lagi, menyiksa. Siksaan yang sedikit lerai ketika kupukulkan kepalaku ke batu, atau minum air sebanyaknya sehingga aku tak bisa tidur, sulit bernafas dan merasa melayang. Atau menggoreskan alat ukir ke dagingku sendiri. Kebiasaan yang kini bergeser ke beberapa binatang kecil: kodok, kadal, ikan, dan terakhir tikus.
Aku mengukir batu di daging tikus. Darahnya yang menetes, setelah tikus itu kulepas, seperti penunjuk jalanku menuju Nano. Betapapun aku tak tahu dimana itu. Beberapa kali kesal, akhirnya tikus yang terseok itu kulempar batu. Cukup kuat, tentu. Bagaimana kemudian tikus itu, tentu siapa pun tahu.
Aku terus memburu tikus. Mencipta jalan darah, menuju Nano.

Batu Ketapel Rasol

Pertemuanku dengan Rasol terjadi secara tidak sengaja. Pulang sekolah, sepuluh tahun lalu, seperti biasa aku menyusuri jalan raya sendiri. Dekat pintu kereta, aku melihat sebutir uang logam seribuan di badan jalan, mengerdip ditimpa matahari. Reflek aku mendekat dan coba mengambilnya. Belum tersentuh logam itu, sekonyong tenaga yang sangat kuat menyentak tas punggung, dan mendorongku hingga terjerembab ke pinggir jalan.
Aku terkejut dan tentu harus marah besar. Tapi di detik itu pula kusadari, sebuah motor melaju hanya beberapa senti dariku. Umpatan kasar pengendaranya terdengar menjauh. Aku memandang dengan mata nyalang ke atas: seorang bocah –betapapun kupikir dia dua-tiga tahun lebih tua dariku—berdiri lurus di sisi pinggangku. Bibirnya mencemooh, lalu pergi begitu saja. Tangannya mengayun kecil, sebutir logam ribuan jatuh tak jauh dari hidungku.
Aku tidak tahu harus mengucapkan apa. Beberapa lama terdiam, akhirnya dengan logam seribuan tergenggam aku berusaha mengejar “bocah” itu. Tak berhasil. Lima hari kemudian hasil itu kudapat. Bukan mengejar, namun menemukannya di pinggir kali dekat kampung tempat tinggalku. “Rasol,” ia menyebut diri setelah pada akhirnya kami berkenalan.
Aku tidak bertanya apa yang ia lakukan di pinggir kali. Aku melihatnya. Ia membawa sebuah botol, dengan isi alkohol kurasa. Ia, yang ternyata 2-3 tahun lebih muda dariku, begitu fasih dengan botol itu. Sekali aku menanyakan jenis isi botol itu. Ia tak menjawab tapi menyodorkannya. Seolah menguji pengetahuanku tentang jenis minuman. Biar tahu kebodohanku, kuterima botol itu dan coba menciumnya. Huh. Tajam dan menusuk!

“Minuman apa ini?” teriakku.

“Solar,” jawabnya datar.

"Kau minum solar?" bocah itu menggeleng. Aku hanya mencium baunya, katanya.
"Kalau diminum, sudah mati dari dulu aku," ketusnya lagi.
Aku tak bertanya lebih berikut. Hanya kutahu, nama Rasol berasal dari julukan teman-temannya karena kegemaran itu. Kutahu, beberapa tahun kemudian, ia berganti-ganti isi botol yang diciumnya. Dari solar, minyak tanah, spiritus, dan akhirnya bensin.
Tak tahu aku darimana ia berasal. Siapa keluarga, atau orangtuanya. Ketika kutanya, ia menjawab seraya tertawa, menyodorkan botol bensin dan bersuara –kering seakan derit roda kereta api, “ Ini ibuku!” Begitupun saat kutanya ayahnya, wajahnya menggeram dan tangannya mengeluarkan sebuah paku besar bergagang kayu, yang telah pipih dan menjadi tajam karena dilindas roda kereta. “Ini bapakku!”

Hingga umur 22, aku berkawan dengannya. Menyaksikan ia ngamen di perempatan jalan, menggoda pengemis perempuan setengah baya –bahkan mungkin memperkosanya—menjambret tas karyawati yang pulang selepas maghrib, atau...onani di kolong jembatan seraya memperhatikan perempuan-perempuan yang lalu di atasnya. Saat usia 14, ia mengajakku merampok anak sekolah menengah agama dekat stasiun kereta. Anak sekolah itu melawan. Rasol menghajarnya habis, mematahkan tulang hasta anak sekolah itu, merebut dompet yang ketat digenggamnya.

Sebenarnya aku takut. Tapi Rasol seperti menghisap. Ia tak mengganggu apalagi memeras atau merampokku. Ia tahu ayahku orang sederhana. Pegawai jawatan kereta api rendahan. Bahkan ia sering memberiku makanan, kadang uang. Dan aku tidak menolaknya.
Aku pun tidak menolak belajar menggunakan ketapel darinya. Dengan batu-batu yang menghampar di sekujur rel kereta, aku berusaha membidik sehebat Rasol. Burung, adalah sasaran utama Rasol. “Aku benci burung. Seenaknya ia terbang kemana saja, hinggap dimana saja. Emang dunia milik dia?!” Lalu ia melentingkan karet ketapel, membidik, dan satu burung akan jatuh. Ia tidak peduli jatuh dimana. Ia yakin, burung itu pasti mati.
Sampai satu ketika, ia meleset. Batu kecil yang ia ketapel tidak mengena sasaran, tapi membentur tiang listrik dimana burung itu bertengger. Kerasnya lontaran, membuat batu itu deras memantul, menimpa daging lembut di kening Rutri, adikku. Dua hari Rutri di rumah sakit dan pulang dengan delapan jahitan. Rasol hilang. Aku tak berhasil mencarinya. Berhari berminggu.
Sampai kutemukan tempat ia biasa menginap. Hal paling rahasia darinya. Sebuah ruang kecil di antara kayu-kayu peti di pojok pasar dekat stasiun. Beberapa benda mengonggok begitu saja: radio kecil, beberapa pisau paku belum bergagang, celana dalam perempuan, foto-foto porno, makanan kering, botol-botol berbau bensin, dan sebuah gambar potongan koran. Kukenali sebagai gambar seorang jenderal besar di masa revolusi dulu. Kenapa? Entah.
Dan, sebuah ketapel baru. Licin, bagus bentuknya. Seperti sengaja diletakkan untuk kutemukan. Aku merasa ketapel itu titipan, atau hadiah Rasol untukku. Kuterima dengan hikmat. Kugunakan dengan baik, dengan teknik yang kudapat dari Rasol. Sasaranku adalah apa pun yang terasa paling tinggi untukku. Pucuk daun, atap rumah, layangan, tiang listrik, atau pesawat terbang.
Jauhnya lontaran batu ketapel, menurutku adalah jarak dan arahku menemukan Rasol.

Kolonel Jon Dukusemak

Panggil saja aku, lelaki 40 tahunan ini, “Jon”, dari Sir Marjon Dukusemak. Anakku dua, istriku –Drita—sarjana magister untuk manajemen. Kami keluarga bahagia, tepatnya: menjanjikan. Rumahku cukup bagus, tidak mewah. Sebuah jip sederhana, berusia hampir setengah umurku, mengantar kami sekeluarga menjalankan wajib hidup tiap harinya. Penghasilan istriku delapan juta sebulan, kotor. Aku sekitar tiga jutaan, bersih. Kami pekerja keras. Untukku, sangat keras.
Baru sepuluh bulan lalu, sebagai prajurit aku masuk jajaran perwira tinggi: kolonel, karena prestasiku memimpin misi pasukan perdamaian internasional di sebuah negara konflik di tengah Afrika. Baru sejak enam bulan lalu, aku tergolek di rumah sakit ini, dua kali lima jam tiap minggunya. Perawatan permanen yang harus kujalani seumur hidup. Satu bentuk pengobatan yang membuatku lumpuh sepanjang setengah dari waktu hidup yang tersisa untukku.
Kecelakaan berat terjadi saat aku memimpin satu latihan tempur. Tiga belas tulang rusukku patah, setengah badan tak dapat bergerak selama dua minggu, delapan belas jahitan di ubun-ubun, kedua ginjal bocor, dan infus darah dua kali seminggu selama dua bulan. Tiga minggu dirawat rumah sakit, aku keluar dengan satu pekerjaan tambahan: hemodialisis.
Dunia memang tidak selesai. Tapi waktu berhenti. Rutin pengobatan itu memang tidak membunuhku, malah membuat hidupku bertahan (satu hal yang kemudian kusesali). Tapi dunia sekeliling kini hanyalah tempat pemakaman untukku. Aku menjauh dari istri dan Drita seperti mengubur jutaan keluhan di palung mata dan gurat bibirnya. Tugasku pindah dari lapangan ke sebuah meja di markas besar, dan aku tak bisa lagi memegang pistol tanpa gemetar, bahkan hanya untuk mengangkat anak bungsuku.
Dunia memang tidak selesai. Namun pertunjukan usai. Lampu-lampu menjadi gulita, panggung lengang, cerita hampa. Aku aktor yang bermain tanpa peran. Aku aktor yang cuma terdiam, saat lawan mainku di sebelah, berteriak-teriak minta mati. Lalu ia mati, ketika jarum suntik masih menghujam dan berbagai selang mengurung tubuhnya. Temanku bicara, Pak Lakatepa, terjatuh di kamar mandi suatu pagi, saat ia menyanyikan lagu “Darah Muda”, dan ditemukan tewas hanya tiga menit setelahnya.
Banyak cara menyelesaikan dunia, bagi sejawatku di ruang dialisis. Pedagang India itu menghabisi nyawanya dengan mengunyah satu porsi daging kambing di depan istrinya yang sangat cantik. Seorang pejabat pemerintah, yang baru saja kawin keempat kalinya, menyusuri pantai dekat rumah peristirahatannya sambil membawa sesisir pisang ambon. Buah paling berbahaya. Sore hari, ia ditemukan kaku disiram air pasang. Pisang sesisir belum habis dinikmatinya.
Dan aku tahu, sebagai aktor aku harus menyelesaikan drama menggelikan ini. Aku tidak akan bermanis-manis. Tidak membalas dendam semua larangan yang ada padaku. Tidak mau mautku datang seperti pencuri tengah hari. Tidak. Aku harus mati dengan keras. Laiknya seorang prajurit. Aku harus turun panggung dengan tegas, mendebat sutradara mengapa peranku jadi kosong belakangan ini.
Aku lalu berjalan. Berjalan. Berjalan.

Perempuan yang Tersenyum

KU bisa saja menjadi pelacur. Dan bukan karena Tuhan tidak mengizinkan atau aku tidak menginginkan. Tapi tak ada yang mau membayarku, atau menawariku tidur dengan imbalan berapa saja. Tubuhku langsing padat, kulitku kuning langsat, bola mataku hitam padam, tak berkerut di mata maupun dahi, kecuali sedikit lesung di pipi. Bibirku bergaris kuat, dan senyum tak pernah pergi darinya.
Senyum bukan tradisi di wajahku, bukan bawaan hatiku. Senyum adalah terapi terbaik untuk pikiran dan perasaanku. Sejak Darius, suami yang memberiku tiga putra, kena PHK dari perusahaan sepatu asing, senyum menjadi obat bagi semua hal yang menghimpit, memuakkan, dan kerap memintaku membunuh diri atau membunuh siapa, apa pun.
Ketiga anak kami hanya berselang rata-rata enam belas bulan. Yang terbesar baru lima tahun. Dan Darius adalah suami sejati. Pergi pagi pulang petang hari. Tanpa buah tangan sama sekali, tapi meminta nasi dan lauk harus siap tersaji. Meminta televisi dan wayang kulit radio tetap menyala. Meminta kupijat tiap malamnya. Meminta servis lebih setiap menjelang paginya. Meminta sebagian modal dagang kainku menjelang berangkatnya.
Darius menjalankan tugas lelakinya dengan setia. Soal hasil nomor dua, atau dua ribu tiga, tak berubah makna. Aku upayakan semua. Menyusui, memasak, memandikan, bersih rumah, cari uang, belanja, menghadapi rentenir, menyambut tamu er te, bersihkan halaman dan kebun singkong, mencuci mobil pik-ap yang berganti pakai dengan Darius.
Hari-hari ini, tak ada harga yang tak naik. Cuma pembeli kain dan harapan yang turun drastis. Biaya te ka si sulung pun naik. Air ledeng naik. Gas naik. Listrik naik. Telepon naik (sudah kuputus dua minggu lalu). Bahkan Darius naik makin tinggi tiap menjelang pagi. Seluruh yang ada dalam tubuh dan pikiranku turun. Kecuali tekanan darah, dan gejolak –entah apa—yang belakangan kuyakin meninggi cepat.
Seminggu lalu, Darius meminta seluruh modalku, untuk modal bisnis barunya. Ia pertaruhkan seluruh yang ia miliki (entah apa), kalau perlu perkawinan ini (entah kenapa) untuk membuatku percaya. Aku tak percaya. Tapi kuberikan modal itu padanya. Dan ia memenuhi kebutuhan harian kami. Selama seminggu. Setelah itu ia tak pulang. Aku tahu, ia kalah judi –bisnis baru yang disebutnya itu.
Kini tinggal pik-ap berharga tak seberapa. Selebihnya, rentenir, pak er te, te ka si sulung, utang kain, belanja, susu, harga meninggi, dan bibirku yang tersenyum. Bukan lagi obat, ia adalah senjata. Karena semua kini kuhadapi dengan senyum. Kata-kata sudah cukup lama aku tak punya. Terserah bagaimana orang menanggapinya. Aku tersenyum. Aku tersenyum menyusui anakku dengan tetek yang kering. Aku tersenyum saat utang belanjaan. Tersenyum saat pak er te menjawil pantatku. Tersenyum saat kuputar kepala ayam tetangga untuk makan tengah malam anakku.< Menjelang maghrib ini, aku pun tersenyum. Dadaku penuh dan kosong. Baru saja kuikat mulut, kaki, dan tangan ketiga anakku. Kubawa dengan pik-ap, dan kubuang mereka di sungai yang diderasi hujan gunung. Aku tersenyum saat banyak orang memaki karena pik-apku melewati begitu saja lampu merah. Aku pun tersenyum, ketika... Dan Suatu Ketika...

EMPAT kudengar lelaki separuh baya, berwajah lebih tua, pucat, kurus tapi gagah itu mengumpat, ketika ia menginjak tubuhku dan tergelincir karenanya. Seharusnya ia bersyukur, karena dengan tergelincir, lelaki berseragam militer lengkap itu, selamat. Sebuah pik-ap yang melaju kencang dari arah Selatan tidak jadi membenturnya.
Pik-ap itu seperti melintir, justru bergerak ke samping dan mengarah seorang lelaki tegap yang baru saja mulai menyeberang jalan. Benturan akhirnya terjadi keras. Lelaki tegap itu terlontar cukup jauh. Kuyakini tubuh, terutama dada dan kepalanya, hancur. Orang-orang segera berkerumun. Coba menyelamatkan. Tapi desahan nafas banyak orang memberitahuku, upaya mereka sia-sia. Kecuali satu keluhan, begitu dalam melebihi tangisan. Suaranya lirih terdengar dari seorang wanita yang bersimpuh di sisi mayat hancur, “Nano...Nano...mengapa begini...mengapa begini?” Suara wanita itu kemudian tenggelam dalam keributan.
Beberapa detik aku sempat menengok pik-ap terguling. Satu wajah muncul di balik kaca yang pecah. Wanita cantik, kering, bermata dalam, kerut tajam di pipi, dan bibir tersenyum abadi. Aku bergidik. Hingga tak sadar ketika sebuah kaki yang keras menyepakku. Kaki lelaki militer itu. Umpatannya keras dan tinggi ke arahku.
Aku terlontar keras sekali. Jatuh di aspal, menggelinding dan terjun ke sebuah selokan. Kejatuhan keras kedua. Yang pertama beberapa menit lalu, aku dilentingkan dari ketapel seorang pemuda, ke arah burung merpati di sebuah menara. Tubuhku menghujam keras, menembus daging burung itu, mengoyak dadanya dan terus mendesing, jatuh berdebam di aspal, bersamaan dengan bangkai burung itu.
Di aspal itu, sepatu kulit lelaki militer menginjak dan memelintirku. Dan seterusnya. Kini tubuhku basah dalam selokan. Bukan lagi basah darah burung merpati. Darah itu sudah terkikis habis oleh air. Entah air selokan. Entah airmataku. Aku termangu. Banjir air di tubuhku. Pertanda buruk bagi batu. Dan air itu, terus menyeretku.