Tuesday, January 20, 2009

Indonesia dan Revolusi Kata

Barangkali manusia ada ketika Adam jatuh dari surga ke sebuah daratan di Asia Tengah. Bisa jadi pula ia bermula dari seekor monyet yang berkembang menjadi pelbagai jenis hominid hingga homo sapiens sapiens alias manusia modern, sebagai perwujudan akhirnya. Semua penjelasan itu masih dapat dianggap kontroversial, ratusan hingga ribuan tahun setelah penjelasan awalnya.
Tapi satu hal yang tak lagi ditolak adalah proposisi yang menyatakan: manusia ditemukan oleh kata, oleh bahasa. Bahkan sebagian pemikiran, purba maupun modern, mengafirmasi bagaimana semesta ini ada –dalam arti bermakna—ketika ada kata-kata yang memberinya sebutan, memberi nama dan makna. Bukan hanya kata “kun” (jadilah) –dan homonimnya di berbagai bahasa—melukiskan bagaimana semesta ini berihwal dari sebuah mantra. Kata pertama dari ayat pertama kitab suci Islam pun menyebutkan “iqra” (bacalah), yang menjadi imperasi manusia untuk memahami bahasa (kalam) yang tersebar di tiap mili semesta ini, sebagai perangkat dasar manusia untuk mengetahui makna, menyadari keberadaannya.
Riwayat orang Jawa mungkin dapat menjadi cermin ontologis banyak sukubangsa. Walau hanya berasal dari penuturan seorang raja di salah satu kraton Solo –cerita yang berselubung mitos yang kental—orang Jawa mengakui bahkan menemukan diri eksistensialnya pada tarikh 78 M. Ketika Ajisaka, seorang Prabu dari India Selatan, ke pulau besar di Selatan ini. Ketika raja muda itu menaklukan raja lokal Dewata Cengkar, menganeksasi wilayahnya, merangkum riwayat itu dalam serangkum alfabet penuh makna: “hana caraka data sawala maga batanga pada jayanya”.
Maka dengan huruf-huruf itulah (penggalan dari setiap suku katanya), orang Jawa kemudian menyusun dirinya: hidup, sejarah, jatidiri, mimpi, hingga pemahaman-pemahaman filsafat dan spiritualnya, penyatuan mikro dan makrokosmosnya. Jawa, hanyalah sebuah allegori dari kekuatan kata/bahasa dalam menemukan manusia, menempatkannya sebagai khalifah bagi semua yang ada di bumi, juga semesta.
Kata atau bahasalah yang melucuti manusia dari kegelapan akal bahkan spiritual, bahkan keterputusan abadi dengan: “kebinatangan” homo sapiens yang hidup 30-35 ribu tahun SM. “Dan manusia”, sebagaimana dikatakan Julia Kristeva, dalam karya awalnya, Le Langage, cet inconnu, (Seuil, 1981), “seperti bahasa, (dan) bahasa di tempat manusia adalah sebuah gerak demistfikasi yang sempurna”. Bahasa, sebuah ruang tertutup dan terbuka sekaligus, dimana manusia henyak dan senyap di dalamnya. Dalam Les Mots (Gallimard, 1964), novel autobiografis tentang masa kanak-kanaknya, Jean-Paul Sartre menulis, “J’ai commencé mau vie vomme je la finirai sans doute: au milieu des livres” (“kumulai hidupku sebagaimana aku akan mengakhirinya dengan sebuah kepastian: di kerumunan buku-buku”). Sartre menemukan sekujur diri, hidup, dan makna yang berputar sekitar dirinya, dari kata-kata (les mots).
Apa jadinya hidup pendek yang sangat panjang ini tanpa kata? Tak ada manusia.

***

Dan apa jadinya kata tanpa pikiran di dalamnya? Tanpa gagasan yang memberinya isi, memberinya hidup, pertumbuhan dan apa yang disebut dengan “kekinian”? Sejak tulisan pertama di temukan di masa Sumeria, 4.000 tahun SM, manusia sadar: kebudayaan yang disusun dan peradaban yang terbentuk adalah hasil sublimasi dari kerja keras akal mereka ke dalam sublimasi medium komunikasi mereka, tanda-tanda simbolik bernama bahasa. Bahasa dan kata adalah tubuh dari pikiran dan gagasan manusia, pengambilalihan arti alam ini ke dalam dirinya.
Dua hal itu bukan saja tak terpisahkan, bahkan kesatuan yang akan membuat satu sisinya terpotong jika kita mengiris bagian lainnya. “Seperti satu lembar kertas,” kata Ferdinand de Saussure dalam kanonnya, Cours de linguistique générale, (1965: 157), “pikiran adalah recto dan suara adalah verso; seseorang tak dapat memotong satu sisinya tanpa memotong sisi lainnya di waktu yang sama; dan di dalam arti yang sama, dalam bahasa, seseorang tak dapat mengisolasi suara dari pikiran maupun pikiran dari suara (kata)”.
Maka, sejarah keberadaan –dengan kata lain penemuan dan berulangkali penemuan-penemuan baru setelahnya—manusia, adalah sebuah perjalanan dari pikiran, dari gagasan. Sebagaimana –juga disebut Yudi Latif—kata aqala (akal/pikiran) disebut hingga 50 kali dalam al-quran, begitupun baik Kristeva yang menyatakan, “pour saisir de langage”, untuk meraih (makna) bahasa, “il nous foudrait suivre le trace de la pensée,” (mau tak mau) kita harus mengikuti jejak pemikiran, Frederic Jameson di belahan dunia lain, menegaskan “sejarah pemikiran ada dalam sejarah modelnya...(dimana) model itu adalah bahasa” (The Prison-House of Language, Princeton, 1972).
Bila kata dan bahasa kemudian menjadi rumah di mana akal/gagasan berdiam dan menjelaskan dirinya, maka di tempat itu pula “the house of being”, rumah kenyataan dan keberadaan manusia. Rumah dimana kekuatan terbaik manusia, kebudayaan dalam makna luasnya, mendapatkan markasnya. Peradaban akhirnya terbentuk sebagai manifestasi material dari adab bahasa.

Apa yang terjadi kemudian adalah lalu lintas, dalam berbagai carrefour (perlintasan), adu kepentingan hingga kemacetan, diskursus bahasa yang ketat, yang memberi manusia sejarah, juga selebrasi atas kejayaan dan kedegilannya. Inilah sebuah sejarah bahasa, sejarah kata-kata, dalam arti politik (kekuasaan) adalah riwayat pertarungan antara diksi. Dalam rumah atau panggung itu, politik memang menjadi bagian yang sangat penting, karena ia juga menggunakan bahasa sebagai arsenal utamanya. Di samping kegiatan artistik (sastra khususnya), politik juga adalah prajurit tangguh bersenjata bahasa.
Di saat politik begitu kuat, menentukan hampir semua arah kehidupan, sesungguhnya pilihan kata dalam bahasa pulalah yang turut menentukan politik itu. Inilah motif yang membuat Cicero, bangsawan kata-kata, pindah dari Roma ke Yunani, mempertajam kemampuan bahasa, menyusun senjata mematikannya, retorika, dan meyakini, “tak ada satu hal pun yang tak dapat diciptakan atau dihancurkan atau diperbaiki dengan kata-kata”.
Dan betapa kita mafhum, bagaimana retorika, sebagaimana dinyatakan Antoine Compagnon, kritikus sastra yang berdiam paralel di Paris dan New York, telah kembali mendapat momentum dan kejayaannya di milenium ketiga ini. Setelah seratus tahun lalu ia dicurigai di Eropa daratan sebagai penyebab stagnasi bahkan kemunduran. Seratus tahun lalu rerotika pernah diturunkan dari panggung-panggung sucinya di jurusan-jurusan sastra dan humaniora lainnya.
Kini, dengan perluasan teknologi canggih informasi, yang memberi peluang kepada manusia –seperti iklan global minuman Amerika: siapa, dimana dan kapan saja—dapat mengaktualisasi diri lewat berbagai medium bahasa (suara, abjad, visual, hologramik, dan sebagainya), retorika dalam arti bahasa yang lebih luas, mengambil posisi yang sangat signifikan bahkan vital untuk sebuah penjelasan eksistensial, bahkan menciptakan kebenaran yang mengiringinya.
Politik bahasa ternyata mendapatkan kelanjutan atau kesinambungan yang penuh tenaga pada masa kini, bukan hanya untuk merebut perhatian publik, bahkan afirmasi publik demi terwujudnya pasar yang diinginkan, wilayah dominasi yang diinginkan, kekuasaan yang diinginkan. Maka sejarah bahasa dalam politik ini, sesungguhnya tetap menyimpan kerentanan paling purbanya sendiri: dunia politik rapuh dan cemas justru pada (kekuatan) bahasa lain. Pada kata atau diksi yang lain. Karena dalam logika politik, paling tradisional hingga paska-modern pun, bahasa dan diksi yang ada di dalamnya adalah penyangga dan benteng bagi pertahanan sebuah kekuasaan (status quo).


Dalam pemahaman terakhir di ataslah mungkin poin utama dimana kumpulan tujuh esai Yudi Latif dalam buku ini, mendapatkan sasaran panahnya. Ia tidak hanya memulai buku ini dengan sebuah aforisma, “setiap gerakan kebangkitan selalu bermula dari kata”, tapi juga menyitir di banyak bagian tulisannya, bagaimana berbagai kitab, teks utama atau babon-babon sastra menunjukan posisi kata atau bahasa sebagai “tuhan”, atau sebaliknya (the Word-God).
Dalam refleksinya tentang kebangkitan masyarakat kepulauan ini menuju sebuah bangsa, Yudi menunjukkan bagaimana bahasa yang tergunakan, pilihan diksional di dalamnya, menentukan tidak hanya cara berpikir, alternatif dalam memandang kenyataan, tapi juga stimulus pergerakan bagi sebuah kemajuan atau pembebasan. Kata kemadjoean atau perubahan kata indische menjadi indonesische hingga indonesia, memainkan atau menciptakan diskursus yang sangat penting dalam cara orang-orang kepulauan ini merumuskan diri, kenyataan sekitar, serta tujuan-tujuan hidupnya.
Karenanya, dengan pilihan kata yang hampir imperatif dan berulang, buku ini menegaskan pilihan terbaik bagi sebuah perubahan atau reformasi apa pun (di tingkat apa pun), tidak dapat terjadi secara substansial dan signifikan tanpa sukses kita menginisiasi sebuah gerakan kebudayaan. “Gerakan kebudayaan merupakan jantung reformasi sosial,” tulisnya seraya meneguhkan kebudayaan di sini dilandasi oleh sebuah arsenal terpenting: bahasa. Sastra dan keberaksaraan dalam arti praktisnya.
Dan betapa pentingnya bahasa/sastra/keberaksaraan sebagai landasan kebudayaan dari sebuah kebangkitan dan perubahan, membuatnya juga memiliki posisi sentral dan fundamental dalam diri manusia sebagai kekuataan terbaik dalam proses kebangkitan itu. Kualitas manusia yang tumbuh sebagai karakter kuat, yang mampu menolak atau meminggirkan dua bahasa mediatik paling dominan, sebagaimana dikutip Yudi dari Rushworth Kidler: politik (who’s the wining, siapa yang menang) atau ekonomi (where’s the bottom line, dimana untungnya), dan menggantinya dengan satu bahasa dominan baru, bahasa kebudayaan, tentang what’s right (dimana kebenarannya).
Pada pertarungan kekuasaan, yang sekali lagi tak lain adalah pertarungan bahasa ini, kata-kata dan diksi menjadi prajurit di garda depannya (avant-garde). Dimana kekuatan dan kekuasaan tradisional, seperti dijelaskan di atas, mendapat ancaman terkerasnya dari munculnya kata, diksi dan bahasa baru di wilayah kekuasaan, di tengah publik yang didominasinya. Kita tahu, di banyak dekade mutakhir, pilihan-pilihan kata yang dipilih penguasa (politik-ekonomi-militer-agama, dsb) –yang juga didistribusi oleh media massa yang berkepentingan sama—menciptakan sebuah pola kesadaran tertentu. Pola dimana kenyataan ternyata sudah dikonstitusi lebih dulu, menjadi sesuatu yang semu, ilusif dan pada akhirnya menciptakan sebuah kesadaran semu dalam bentuk lain.
Diksi-diksi seperti “separatisme”, “teror”, “penyesuaian harga”, “penyalahgunaan wewenang”, “ganti rugi”, “narapidana”, “PSK”, “BLT” hingga pada terma-terma seperti “demokrasi”, “pemilu langsung” atau “keterwakilan”, sebenarnya tidak lain adalah ruang-ruang tertutup dimana kepentingan politik dan status quo bersembunyi di dalamnya. Bila di masa lalu kata kemadjoean dapat memainkan peran penting dalam meneguhkan diri masyarakat sebagai sebuah bangsa, mungkin pada saat ini hanya dengan kata, misalnya, “wakil” atau “perwakilan”, sebuah perubahan radikal bisa dilakukan. Dengan misalnya, mengubah makna kata tersebut, atau menggantinya dengan istilah lain, karena kata tersebut sudah tidak lagi mewakili makna otentiknya, di saat mereka yang disebut “wakil (rakyat)” atau orang dipercaya rakyat, justru mengkhianati mereka yang telah memberinya kepercayaan dan kekuasaan.
Maka siapa pun yang menyatakan dirinya sebagai “wakil” pun pantas ditolak bahkan dikhianati. Apapun yang dilakukan dan diproduksi oleh “wakil” tersebut juga pantas ditolak, diingkari. Maka, dari sebuah diksi pun, perubahan radikal bisa dibayangkan terjadi: masyarakat menolak semua produk yang dihasilkan parlemennya! Satu gerakan bahasa, sebagai inti dari gerakan kebudayaan, landasan dari satu kebangkitan dan perubahan pada akhirnya, akan terjadi: dimulai dari beroperasinya, bergeraknya kaki-kaki dari kata-kata.
Itulah makna yang membuat buku renungan esaik Yudi Latif ini pantas dikunjungi dan juga direnungi lebih dalam. Gerak manusia, gerak sebuah bangsa, tidak lain berhulu pada satu gerak kebudayaan, dimana bahasa sebagai intinya. Revolusi pun terjadi, bermula dari kata-kata yang melawan, karena kaki-kakinya yang perkasa mulai melangkah dengan penuh tenaga.
pamulang, 2008

Sunday, January 11, 2009

Metamorfosa Kosong 5


( 5 )
DI RUANG PERTAMA. CAHAYA LEBIH TERANG. FITRI DAN DARMO DAN SEGELAS KOPI. ROKOK YANG MENYALA. DUA MINGGU KEMUDIAN.

FITRI : (MONDAR MANDIR) Dingin sekali....
DARMO : Kau kedinginan. Masih terlalu pagi, memang. Mendekatlah sini. Biar kau kena cahaya dan bisa merasa lebih hangat.
FITRI : Ponco juga pasti merasa kedinginan. Biar aku di sini saja. Aku ingin merasakan apa yang Ponco rasakan.
DARMO : Tapi di situ terlampau gelap, Fitri.
FITRI : Sel Ponco pasti lebih gelap lagi.
DARMO : Kau tidak merasa takut di situ?
FITRI : Apa yang dihadapi Ponco tentu lebih mengerikan.
DARMO : Terlampau larut kau dibawa perasaanmu sendiri.
FITRI : Ponco pagi ini akan ditembak mati.
DARMO : Sudahlah, Fitri. Sudah. (BERDIRI DAN BERJALAN KE SUDUT YANG LAIN)
FITRI : Kenapa sudah, Darmo? Apanya yang sudah? Kau pikir kita sudah bisa tenang dengan Ponco dilahap peluru panas di lehernya? Sementara badannya tentu terlalu dingin untuk itu.
DARMO : Aku tidak berkata begitu. Aku cuma memintamu untuk mengerti dan tenang, bahwa ini memang mesti terjadi.
FITRI : Jangan mendakwa aku, Darmo. Aku sangat mengerti. Mengerti sekali bahwa ini memang harus terjadi. Ponco ditembak mati. Keyakinan yang begitu besar, semangat yang begitu tinggi, kejujuran hati. Semua itu harus ditembak mati.
DARMO : Ia mati untuk menghidupkan yang lebih banyak lagi.

FITRI : Ponco adalah patriot besar. Negeri ini tak boleh melupakannya. Juga darah darah lain yang tumpah untuknya. (MENUNDUK) Aku hanya merasa ngeri, banyak orang setelah kita, duduk di atas darah Ponco, mengatasnamakannya untuk mendapatkan posisi dan memperoleh keuntungan-keuntungan politik, ekonomi, atau sosial karenanya.
DARMO : Terkutuklah orang seperti itu.
FITRI : Zaman selalu diisi oleh jenis-jenis manusia seperti itu.
DARMO : Dan kitalah yang menentangnya. Tanpa boleh menyerah.
FITRI : Dengan tubuh dingin dan peluru panas.
DARMO : (MENGHELA NAFAS) Tenangkan jiwa dan pikiranmu, Fitri. Ponco bisa saja bebas. Kalau Gubernur Jenderal mau mema'afkan dia. Dan rekan-rekan kita di Volksraad tentu tak berhenti bersuara dan berusaha untuk membebaskannya. Aku yakin, Thamrin, Yamin dan yang lainnya akan membelanya terus. Dan ...kita tahu, orang seperti Ponco masih kita butuhkan.
FITRI : Tidak. Ia akan mati. (DARMO MENOLEH KE ARAH FITRI) Inilah jalan yang memang sudah diinginkannya. Ponco akan merasa lebih bahagia dengan kematian ini. Aku bisa merasakannya. Dalam hitungan mundur ini, aku rasakan tubuhnya yang dingin sudah jadi kosong. Tanpa lagi diderita rasa dingin atau kekecewaan pada kita yang mungkin tak mampu melanjutkan perjuangannya dengan lebih baik.
DARMO : Kita tidak akan pernah berhenti berjuang, Fitri.

SUTRIS TIBA-TIBA SUDAH MUNCUL DI PINTU.

SUTRIS : Kita tidak akan pernah berhenti berjuang, Fitri.
DARMO : (MENOLEH) Kau kembali, Sutris.
SUTRIS : (MELANGKAH MASUK) Aku akan menggantikan tempatnya, setelah dulu aku gagal menjadi pendampingnya. (DUDUK) Aku tak bisa menahan getar tubuhku, saat di sidang kudengar Ponco berkata lantang, "kematian akan merupakan protesku yang tertinggi terhadap dunia yang penuh darah dan airmata ini."
FITRI : “Dunia yang penuh darah dan airmata”.
SUTRIS : Ponco kemudian berteriak seperti sebuah sangkakala, "Protes yang menyerap segenap kemanusiaan yang kumiliki ini, akan memanggil seluruh jiwa yang jujur untuk membela dan memperjuangkan apa yang sebenarnya menjadi haknya." Pada saat itu aku mengambil keputusan untuk kembali. Aku tak bisa mema'afkan kepengecutanku yang lalu. Aku berlari. Dan membunuh bergundal kolonial yang memperkosa seorang gadis. Kini, bom sudah kutanam di jantung dan benakku. Aku siap melemparkannya, kapan pun. Aku siap menerima tugasmu, Darmo. Apa pun.
DARMO : Aku bahagia dan bangga, Sutris. Kuterima baik kau kembali.
FITRI : Ponco pasti merasa senang. Dari semula tak pernah luntur kepercayaannya padamu, Sutris. Tubuhnya tentu akan sedikit lebih hangat jika ia bisa mendengar kata-katamu ini.
SUTRIS : Mestinya aku bisa menyelusup ke tempat hukuman tembak dilangsungkan. Tapi aku bertemu Wali di sana. Ia minta aku ke sini. Dan aku kembali.
FITRI : Waktunya sudah dekat. Mestinya kini ia tengah digiring dengan mata tertutup ke lapangan hukuman. Dan bibirnya pasti takkan pernah berhenti menyenandungkan, "Indonesia merdeka...!"
WALI : (MEMBUKA PINTU DAN MASUK) Dia memang rekan dan pahlawan yang dapat dibanggakan. Kita keliru kalau selama ini sering menyangsikannya. Aku merasa bersalah karena itu.
FITRI : Kau dari sana, Wali?
WALI : Aku menyaksikan semuanya.
FITRI : Adakah ia gemetar?
WALI : Ia tegar dan menolak matanya ditutup.
FITRI : (PADA DIRI SENDIRI) Tubuhnya mesti kedinginn. (PADA WALI LAGI) Adakah yang dikatakannya.
WALI : Ia mendengar apa yang dikatakan oleh seorang ahli agama di depannya. Tapi kemudian ia bicara dengan lantang, "Aku tidak menolak adanya Tuhan. Tapi kematian seperti ini sudah kupilih. Aku tidak membutuhkan petuah-petuah cengeng. Aku tidak butuh Tuhan. Apalagi jika ia diucapkan hanya sebagai hiburan".
FITRI : Dan peluru ditembakkan.
WALI : Dan peluru diletuskan.
FITRI : Dan tak ada keluhan sedikit pun keluar dari bibirnya.
WALI : Tak ada keluhan keluar dari hatinya.
FITRI : Tubuhnya layu dengan darah di sekujur tubuhnya.
WALI : Cukup, Fitri! Buat apa kau menyayat-nyayat dirimu sendiri dengan cara seperti itu.
FITRI : Dengar, Wali. Kau harus menceritakan lebih rinci, dan lebih rinci lagi. Bagaimana semua itu berlangsung dan terjadi. Karena aku mau kepahitan itu berarti. Karena Ponco tidak boleh mati sia-sia.
DARMO : Diam!!
FITRI : (LEBIH KERAS LAGI) Tidak!! Kau harus bicara. Kita harus bicara. Ceritakan padaku sekarang, Wali, bahwa Ponco melangkah dengan kaki menapak lantai yang ia jejak. Bahwa Ponco menegaskan perjuangannya sampai detik terakhir ia bisa merasakan dingin tanah negeri yang dicintainya ini. Sampai detik terakhir keindahan dunia bisa ia hisap!

WALI DIAM SAJA.

FITRI : Kau harus mengatakannya, Wali. Kau harus katakan!
DARMO : (MENGHELA NAFAS) Katakan, Wali!
WALI : Ia masih bicara satu kalimat di akhir kesempatannya.
FITRI : Terus, katakanlah Wali.
WALI : Ia berkata lurus, seolah pada moncong senapan yang diacungkan padanya, "Tak ada lagi yang kukenang sekarang. Urusanku dengan hidup sudah selesai. Dan aku sudah menyiapkan tempat untuk kematian".
FITRI : Ia telah dapatkan kedamaian. Terus, Wali.
WALI : Sampai kapan kita lanjutkan perkosaan bathin ini, Fitri.
FITRI : Aku punya hak untuk mendengarnya. Aku berhak. Mungkin bagimu hal itu jadi sebuah perkosaan. Karena kau cemburu padanya. Kau tak dapat berbuat seperti dia. Apalagi memperoleh apa yang telah dia peroleh. Kau takkan mendapat kemurnian, kejujuran, dan penyatuan diri sebagaimana Ponco telah dapatkan. Kau tak bisa berdamai dengan apa saja. Sebagaimana Ponco telah berdamai dengan hidup ini. Bahkan dengan semua derita yang ia peroleh, semua airmata yang mengalir di kakinya. Kau takkan memperolehnya. (MENGHADAP SEMUA) Juga kita.

SEMUA DIAM

FITRI : Kosong. Ia sampai pada kekosongan dimana segala unsur hidup bersatu. (MENUNDUK) Bertahun-tahun aku mencitakan hal itu. (PADA DARMO) Bertahun aku tak berbuat salah pada perjuangan ini. Bukan begitu, Darmo?
DARMO : Kau adalah wakil yang sempurna dari perjuangan kita, Fitri.
FITRI : Aku belum pernah meminta pertolongan padamu, bukan?
DARMO : Belum.
FITRI : Dan kau akan menolongku sekarang, Darmo.
DARMO : Ya.
FITRI : Berikan aku bom. Biar aku yang akan merakitnya sendiri. Tapi atas izinmu, Darmo, aku akan melemparkannya.
DARMO : Itu tidak mungkin, Fitri.
FITRI : Mengapa tidak? Mengapa Darmo?
DARMO : Peraturan organisasi kita melarang wanita melakukan itu.
FITRI : Aku tahu itu. Aku tahu, sejak tadi aku sudah melupakannya. Aku harus melempar bom, dan aku berhak. Dan kau akan mengizinkannya, kasihku.

DARMO GELISAH.

FITRI : Aku tahu kau akan mengizinkan, Darmo. Karena kau tidak akan terlampau memikirkan kepentinganmu sendiri. Ketiadaanku akan justru menolongmu nantinya, sebagai pimpinan, sebagai pejuang. Sebagai orang yang mencintai...
DARMO : Fitri!
FITRI : Kau memberiku ijin? Aku tak salah dengar?

DARMO SANGAT GELISAH.

SUTRIS : Berikan ijin itu, Darmo.
WALI : Ia kini punya hak untuk itu.

DARMO MEMANDANG SEMUANYA DENGAN GELISAH. TERKAHIR PADA FITRI YANG MATANYA LURUS TAJAM MENATAP MATANYA.

DARMO : Aku tak mengerti, apakah aku telah mengambil keputusan yang tepat atau tidak. Tapi...memang, tak ada yang bisa menghalangi kau untuk melakukannya, Fitri.
FITRI : Bagus!

FITRI KE SUDUT. DUDUK MEMBERESKAN PERKAKAS. SUARA SIRENE MERAUNG TIBA-TIBA. SEMUA GELISAH. SALING BERTANYA DALAM HATI. SIRENE DAN SUARA RIBUT MENGURUNG. PESAWAT SEPERTI MENDERU DI ATAS KEGELISAHAN MEMUNCAK..DAN...SUARA BOM BESAR MENGGELEGAR. SEMUA HANCUR. FITRI MASIH MEMBERESKAN PERKAKAS.

LALU GELAP.

Jakarta, 03 Oktober 1990/Teater Kosong

Metamorfosa Kosong 4


( 4 )
SEBUAH PENJARA. LELAKI SETENGAH TUA DAN GEMPAL MENGEPEL LANTAI. HENING. HANYA KERESEK SANDAL LELAKI TUA DAN KAIN PEL YANG BERADU DENGAN LANTAI. DI SATU SUDUT, DI BALIK TERALI, PONCO DUDUK.

PONCO : (MENGHAMPIRI LELAKI) Kau tentu orangh hukuman juga.
LELAKI : Siapa di sini yang tak mengalami hukuman.
PONCO : Apa perkaramu?
LELAKI : Biasanya lelaki yang ada di sini. (PAUSE) Kubunuh tiga orang dalam satu gerakan.
PONCO : Kau rampok mereka?
LELAKI : Begitulah. Tapi...ah sudahlah. Di sini tahanan dilarang bicara sebenarnya.
PONCO : Kau sebenarnya tidak merampok.
LELAKI : (MEMANDANG PONCO. LALU CELINGUKAN) Anakku belum makan dua hari. Kalau aku dan istriku tak persoalan. Tapi uang panenku, seluruhnya untuk bayar lintah darat. Itu soalnya. Kuminta sebagian, tak boleh. Ya, aku kesel, kuambil semuanya.
PONCO : Dia melawan.
LELAKI : (TERKEKEH) He..he.. Ronggo kok dilawan. Entek kabeh.

LELAKI TERTAWA. JUGA PONCO. SUARA PENJAGA TERDENGAR DI BALIK PINTU MEMBENTAK. KEDUANYA MENUTUP MULUT.

LELAKI : (CELINGUKAN) Kalau kau? Berapa?
PONCO : Satu orang.
LELAKI : Umurmu?
PONCO : Sekarang jalan dua empat.
LELAKI : Belum kawin?
PONCO : Belum.
LELAKI : Selamat.
PONCO : Aku takkan beruban di sini?
LELAKI : Aku saja belum. (TERKEKEH) Kau pasti akan merasakan enaknya kawin. Pasti. Mudah-mudahan pada saat itu aku bisa datang. (TERKEKEH. TIBA-TIBA) Siapa yang kau bunuh, anak muda?
PONCO : Residen.
LELAKI : (TERLONCAT) Diamput! Diamput!
PONCO : Kenapa, pak?
LELAKI : (MATANYA NYALANG) Diamput. (GELENG-GELENG) Berat, berat.
PONCO : Aku sudah tahu. Itu yang aku pengen.
LELAKI : Bajingan! Tapi aku ndak rela..ndak rela.
PONCO : Kenapa?
LELAKI : Kau orang organisasi?
PONCO : Ya. Kenapa?
LELAKI : (MENDEKATKAN WAJAHNYA) Aku algojonya di sini.
PONCO : (TERTAWA) Selamat...selamat!
LELAKI : (BINGUNG) Kurang ajar. Kok malah ngakak. Kok ndak tahu kau bikin repot saja.
PONCO : Kenapa?
LELAKI : Kalau aku memenggal satu kepala atau menembak mati, satu tahun hukumanku berkurang. Tapi tiga tahun bertambah kalau aku menolak tugas itu.
PONCO : (TERTAWA)
LELAKI : Dan aku sudah mau bebas!
PONCO : (TERTAWA)
LELAKI : Padahal aku nggak mau membunuhmu, goblok!
PONCO : (TERTAWA LEBIH KERAS)

SEORANG PERWIRA DAN DUA PENJAGA TIBA-TIBA SUDAH MASUK. BERSAMA SEORANG WANITA.

PERWIRA : Diam!

PONCO MASIH TERKIKIH. LELAKI SURUT, MEMBUNGKUKKAN BADAN, MENENGOK SEBENTAR PONCO. DAN PERGI.

PERWIRA : Apa yang dibicarakan?
PONCO : Bapak itu cerita, dia terkencing di celana waktu pertama kali melihat Anda. (TERTAWA)
PERWIRA : (MARAH) Diam!!

PERWIRA INGIN MEMUKUL PONCO DENGAN POPOR SENJATANYA. TAPI DICEGAH WANITA. LALU IA MENGUSIR LELAKI, MENGHAMPIRI PONCO DAN MEMBUKA PINTU SEL.

PERWIRA : (MEMPERSILAKAN WANITA MASUK KE DALAM SEL) Nyai ingin bicara padamu. Dia tak bermaksud jelek. Kuminta, kau juga bersikap sama. Bahkan bisa bekerjasama. (MENETI REAKSI PONCO) Silakan, Nyai.

PERWIRA KELUAR. MENGUNCI SEL DAN PERGI. DIIKUTI PENJAGA.

NYAI : Selamat siang, anak muda.
PONCO : Aku belum kenal Anda. Aku tak terbiasa meladeni orang tanpa tahu lebih dahulu siapa dia.
NYAI `: Aku Tuminah. Orang biasa panggil aku Nyai Tumi. Aku istri Residen yang kau bunuh.
PONCO : (TERKEJUT) Oohh...
NYAI : Aku ingin bicara padamu.
PONCO : (MENGENDALIKAN DIRI) Kalau aku bersedia atau menyediakan waktu untuk itu. Tapi rasanya aku ragu.
NYAI : Aku tak perduli itu. Aku mau bicara. Itu saja. Apa terlalu sulit kau menerimanya.
PONCO : Tak ada waktu untuk kompromi.
NYAI : Untuk orang yang telah kehilangan sebagian hidupnya karena kau. Untuk anak-anak yang jadi yatim karenamu?
PONCO : Tak ada sempat untuk menghasut.
NYAI : Kau berhadapan dengan wanita yang tiga puluh tahun capek menderita. Dan baru sebentar saja menerima ketenangan. Bersama lelaki yang seluruh hidupnya ia baktikan untuk mengabdi pada pendidikan orang kecil. Kau berhadapan dengan orang yang hendak mewakili anak-anak yang kini ragu akan masa depannya. Dan itu kau bilang menghasut?
PONCO : Pengkhianat punya seratus bibir, dan ribuan lidah untuk membasahinya.
NYAI : Bagaimana kau bisa bilang begitu pada seorang wanita yang berhari-hari tak mampu menahan dirinya untuk tidak merasa kehilangan? Pada seseorang yang tiba-tiba kehilangan seluruh temannya. Dan ia butuh bicara. Hanya untuk mencari teman. Bukan musuh, bukan. (PAUSE) Barangkali aku tidak dendam padamu. Orang yang sudah menghancurkan harapan yang baru saja muncul. Habis, habis sudah dayaku untuk membenci. Untuk dendam. Aku hanya ingin bicara.
PONCO : Sedari tadi kau sudah bicara.
NYAI : Ya, tapi bukan pada telinga. Aku ingin telinga. Hal yang di zaman ini tak lagi bisa kudapatkan. (MENGHAMPIRI PONCO) Katakanlah, anak muda, bahwa kau mendengar apa yang kukatakan!
PONCO : Aku mendengar. Karena aku bertelinga. Tapi buat apa?
NYAI : Buat apa? Buat kau gunakan, tentunya. Untuk menjawab pertanyaanku. Meredakan kegelisahanku. Memberiku sedikit saja perhatian.
PONCO : Aku menolak. Semua itu percuma. Untukku, juga bagimu.
NYAI : Barangkali wajahku sudah tak berujud manusia. Ya, bisa jadi. Beberapa hari ini kurasakan sudah hal itu. Tepatnya, ada sesuatu yang hilang dari diriku. Diriku sendiri...Lalu buat apa memberi perhatian pada orang yang telah kehilangan dirinya sendiri?
PONCO : Kau hadir di sini. Dan ada.
NYAI : Seorang nyai, bekas seorang istri residen. Itulah kenyataan yang hadir di depanmu. Dan ia tak memiliki apa-apa. Sebenarnya hal itu sangat kau mengerti. Apa yang dimiliki seorang nyai jika ia sudah menjadi janda? Kosong. Bahkan kehinaan. Mungkin anak-anakku sendiri takkan mengakui aku lagi sebagai ibunya. Hanya lantaran kulitku lebih gelap dari mereka. Nyai sepertiku sebenarnya tak lebih dari selembar foto. Mungkin menarik jika ia dihias pigura dan menempel pada satu dinding. Ia akan jatuh dan pecah jika dinding itu hilang. Tinggal foto yang ada. Tinggal foto, yang kau lihat sekarang. Ia bukan lagi manusia.
PONCO : Segala kehormatan telah dilucuti dari tubuhmu.
NYAI : Kau mengetahui itu, anak muda. Tapi lebih dari itu, ada hutang darah di antara kita. Aku tidak mau menagihnya. Cuma mengharap simpati dari seseorang yang tiba-tiba aku merasa dekat. Yang ternyata simpati itu tak bisa kudapat.
PONCO : Perhatianku kini terpusat antara mencari dan kehilangan diriku sendiri.
NYAI : Kita senasib. Itu aku tahu. Bukankah hal itu yang membuat kita kini ada di sini.
PONCO : Tapi aku tak membutuhkanmu. Aku mau sendiri. Aku mau kau pergi!
NYAI : Kenapa? Aku tidak tahu, sekonyong aku merasa kehadiran suamiku di ruangan ini. Adakah kau kau masih menyimpan sedikit darah suamiku. Mungkin di lengan bajumu, atau di ujung cahaya matamu.
PONCO : Aku tahu, besok aku akan menjalani hukuman tembak mati. Saat yang memang kutunggu sebenarnya. Karena dengan itu lengkap sudah, apa yang bisa kuberikan pada revolusi ini. Aku merasa bahagia. Perjalanan waktu menuju hukuman itu terasa abadi untukku. Aku seperti melihat jelas diriku sendiri. Aku ada. Karena ada sesuatu yang besar meluap dari ruang di ubun-ubunku, ruang di bathin, dan ruang yang diisi seluruh tubuhku. Tapi untuk itu aku harus sendiri. Aku tidak membutuhkan siapa pun. Tidak juga kau. Barangkali tidak juga teman-teman seperjuanganku. Aku memang mencintai mereka. Seluruh semangatku seakan masih bergentayangan di antara kawan-kawanku, di dalam rumah kecil di mana kami memulai perjuangan. Dan kehadiranmu di sini membuat aku merasa berkhianat pada mereka.
NYAI : Aku melihat sesuatu yang hidup. Meletup-letup. Aku melihat darah suamiku di situ. Aku seperti dibangkitkan. Suara itu, suaramu itu, anak muda. Mirip sekali suara suamiku jika ia sedang marah, melihat petani yang terlalu miskin dan tak berpendidikan.
PONCO : Tak ada kata-kata lagi yang dapat kudengar. Aku merasa hilang. Aku lenyap. Tapi ada. Aku ditelan oleh ruang ini, oleh penantian abadi ini. Atau akulah yang menelan semuanya.
NYAI : Suara itu, ya suara itu, milik suamiku. Juga matamu, gerak kecil tanganmu. Tarikan bibirmu. Tubuhmu. Rambutmu, lubang hidungmu...(MENDEKAT) Aku melihat suamiku hidup kembali.
PONCO : Seluruh inderaku mati. Mendengar dan merasa aku tak bisa. Tubuhku membesar. Ooh...membesar. Ruangan ini menjadi sempit. Kulit-kulitku menyentuh semua ruangan ini. Aku harus berkata, ruang ini sudah jadi tenggorokan nafasku. Dan kau perempuan, seperti duri ikan yang menyangkut di dalamnya.
NYAI : (TERSENYUM) Darahku bergolak. Semangatku menggelegak. Jangan-jangan aku sudah tak ada lagi di dunia. Ini seperti surga. Atau neraka? Persetan! (MEMBELAI PONCO) Aku tak mau kembali. Aku tak mau pergi dari sini. Di luar sana terlalu banyak masalah. Biarlah aku di sini, walau aku harus jadi masalah, jadi duri di tenggorokanmu. Biarkan aku hadir bersamamu, suamiku. Biarkan aku ada.
PONCO : (MEMEJAMKAN MATA) Tubuhku kian besar saja. Aku tak mampu menahannya. Ia mengambil ruang di luar penjara ini. Membesar terus. Mengisi segala ruang. Membuat padat udara seluruh negeri. Aku melihat diriku menjadi negeri. Kebebasan...Adakah itu kemerdekaan bangsaku? Adakah kulihat kebebasan bagi Indonesia? Oh... (DIBELAI-BELAI NYAI) Rasanya sesak dan lapang. Rasanya aku penuh dan kosong. Penuh dan kosong...kosong.
NYAI : Suamiku...suamiku... (MEMBELAI-BELAI, MERANGKUL, MENELUSURI SELURUH TUBUH PONCO)

LAMAT-LAMAT.

LALU PUDAR.

DAN GELAP.